Rupiah Melemah: Simak Risiko Suku Bunga BI Bertahan 4,75% Pekan Ini



KONTAN.CO.ID - Para ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) masih akan mempertahankan suku bunga acuannya pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 20–21 Januari 2026.

Kepala Ekonom BCA David Sumual menilai, BI cenderung menahan suku bunga di level 4,75% pada awal tahun ini. Pertimbangan utamanya adalah kondisi nilai tukar rupiah yang kembali berada dalam tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan catatan Kontan, rupiah terus melemah pada perdagangan Senin (19/1/2026) siang. Hingga pukul 11.48 WIB, rupiah spot berada di level Rp 16.922 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,21% dibandingkan posisi akhir pekan lalu di Rp 16.887 per dolar AS.


“Ekspektasinya, suku bunga BI masih akan ditahan untuk mempertahankan daya tarik aset rupiah, apalagi rupiah memang cenderung melemah akhir-akhir ini meskipun inflasi relatif stabil,” ujar David kepada Kontan, Senin (19/1/2026).

David menyebut, saat ini masih sulit memprediksi kapan BI akan mulai menurunkan suku bunga. Menurutnya, arah kebijakan suku bunga BI juga sangat bergantung pada langkah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang diperkirakan akan kembali menurunkan suku bunga.

Terkait pergerakan nilai tukar, David memperkirakan rupiah dalam jangka pendek akan bergerak di kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.000 per dolar AS.

Baca Juga: Perlambatan Ekonomi 2025: Sektor Ini Akan Bangkit Kuartal I 2026

Lebih lanjut, ia menilai stabilitas rupiah saat ini lebih dipengaruhi oleh kebijakan fiskal dibandingkan kebijakan moneter. Pasalnya, investor global dinilai lebih mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah.

“Investor lebih memperhatikan kebijakan fiskal, sedangkan kebijakan moneter sudah relatif baik,” ungkapnya.

David berharap kebijakan fiskal ke depan tetap dijalankan secara konservatif dan prudent agar tekanan terhadap nilai tukar rupiah dapat diredam.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang juga memperkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% pada RDG Januari 2026. Hal ini dinilai penting untuk menjaga imbal hasil aset domestik agar tetap menarik dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

“Kebijakan ini juga sejalan dengan upaya mendorong transmisi penurunan suku bunga lanjutan yang telah dilakukan sepanjang 2025,” tutur Hosianna.

Meski demikian, Hosianna melihat masih terdapat peluang pelonggaran suku bunga BI sepanjang 2026, sejalan dengan ekspektasi pasar global yang memperkirakan The Fed akan kembali melakukan pelonggaran kebijakan moneternya.

“Jadi, kemungkinan waktu penurunan suku bunga BI akan mengikuti arah The Fed untuk menjaga spread yang menarik, stabilitas nilai tukar, serta mengantisipasi tekanan inflasi domestik,” tambahnya.

Baca Juga: Keuntungan SHM: Cara Amankan Tanah Girik Sebelum Hangus Februari 2026

Sementara itu, Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto juga menilai BI masih akan menahan suku bunga di level 4,75% pada Januari 2026. Menurutnya, BI saat ini masih memprioritaskan stabilitas moneter yang pada akhirnya berdampak pada stabilitas makroekonomi domestik.

Ia menjelaskan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi masih membutuhkan dukungan agar bisa tumbuh lebih agresif dan terdapat ruang untuk penurunan suku bunga, kondisi saat ini dinilai belum sepenuhnya kondusif.

“Di sisi lain, laju pertumbuhan kredit masih berada di level single digit dan sektor riil juga masih membutuhkan suku bunga yang lebih rendah untuk mendukung ekspansi,” ujar Myrdal.

Namun demikian, ia menilai fokus BI saat ini tetap pada stabilitas moneter. Peluang penurunan suku bunga dinilai baru terbuka setelah puncak inflasi yang diperkirakan terjadi sekitar April 2026, terutama jika terdapat ruang dari penguatan nilai tukar rupiah.

Terkait upaya stabilisasi rupiah, Myrdal menilai langkah BI saat ini sudah tepat, terutama melalui kebijakan menjaga stabilitas suku bunga serta melakukan berbagai instrumen intervensi di pasar keuangan.

Intervensi tersebut dilakukan melalui pasar spot rupiah, pasar non-deliverable forward (NDF), domestic non-deliverable forward (DNDF), pasar swap, hingga lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Tonton: Proyek DME Bukit Asam (PTBA) Hidup Lagi: Strategi Substitusi LPG yang Bisa Diwaspadai

Menurutnya, kebijakan tersebut relevan karena tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini lebih disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan dolar di dalam negeri. Permintaan dolar domestik, baik untuk impor, pembayaran utang luar negeri, maupun repatriasi hasil investasi, belum sepenuhnya diimbangi oleh pasokan dolar yang tersedia.

“Walaupun likuiditas dolar di dalam negeri sebenarnya cukup, namun pasokannya tertahan. Hal inilah yang membuat pergerakan rupiah relatif masih melemah terhadap dolar AS,” pungkasnya.

Selanjutnya: Perlambatan Ekonomi 2025: Sektor Ini Akan Bangkit Kuartal I 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News