KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor industri nasional kini tengah dihimpit tekanan akibat lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) industri dan tren pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi ini diprediksi bakal memicu kenaikan biaya operasional secara signifikan pada sektor-sektor strategis yang bergantung pada energi non-subsidi. Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Chandra Wahjudi mengungkapkan, saat ini dunia usaha dihadapkan pada dua tantangan besar, yakni kenaikan harga energi global dan volatilitas mata uang.
Baca Juga: Survey Apindo: 67% Perusahaan Tahan Rekrutmen, 50% Tak Ekspansi "Kenaikan harga solar industri B40 dan pelemahan rupiah memang menciptakan tekanan ganda bagi dunia usaha," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (16/4/2026). Chandra membeberkan, berdasarkan hitungannya, potensi pembengkakan biaya yang harus ditanggung pelaku usaha tergolong sangat besar. Menurutnya, merujuk pada konsumsi nasional sebesar 15 juta kiloliter (KL), kenaikan harga energi ini memberikan beban yang besar terhadap neraca keuangan perusahaan. "Proyeksi beban tambahan bagi pelaku usaha bisa mencapai Rp 76,5 triliun per tahun jika konsumsi nasional kurang lebih 15 juta kiloliter (KL). Kenaikan tersebut menambah biaya hauling, transportasi laut dan operasional alat berat," jelasnya. Selain itu, lanjut Chandra, tekanan tidak hanya datang dari harga bahan bakar, tetapi juga dari pos pengeluaran lainnya yang berbasis impor. Menurutnya, pelemahan rupiah otomatis mengerek biaya pengadaan suku cadang, pelumas, hingga komponen manufaktur lainnya. "Belum lagi komponen impor seperti suku cadang, pelumas, dan lain-lain otomatis lebih mahal, sehingga tekanan biaya semakin besar. Sektor yang paling terdampak adalah transportasi laut, pertambangan, dan manufaktur, yang semuanya padat energi," terangnya.
Lebih lanjut, Chandra menambahkan, situasi ini memaksa pelaku usaha untuk segera mengambil langkah taktis guna menjaga keberlanjutan bisnis.
Baca Juga: TransTrack Percepat Ekspansi Global di Asia Tenggara dan Timur Tengah "Ini bukan hanya kenaikan biaya biasa, tetapi tekanan langsung terhadap margin, cash flow, dan perencanaan produksi yang pada akhirnya mengharuskan melakukan penyesuaian harga dalam jangka pendek untuk menahan tekanan margin guna menjaga keberlangsungan usaha," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News