KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai mulai memberikan tekanan signifikan terhadap industri manufaktur nasional dan berpotensi membatasi ruang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini. Kondisi ini terutama dipicu oleh meningkatnya biaya produksi akibat ketergantungan bahan baku impor serta tekanan biaya energi dan logistik. Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada sektor tertentu, tetapi juga memiliki implikasi yang lebih luas terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut Josua, tekanan terhadap sektor pengolahan terjadi melalui tiga jalur utama, yakni kenaikan biaya bahan baku impor, peningkatan biaya energi dan logistik, serta tertahannya rencana ekspansi usaha.
“Tekanan kurs terhadap manufaktur bukan isu sektoral semata, tetapi berkaitan langsung dengan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Josua kepada Kontan, Minggu (24/5/2026).
Manufaktur Masih Jadi Penopang Utama Ekonomi
Ia menjelaskan, industri pengolahan masih menjadi salah satu penyumbang utama pertumbuhan ekonomi nasional bersama sektor perdagangan, pertanian, dan konstruksi, seiring dengan produk domestik bruto (PDB) triwulan I 2026 yang tumbuh 5,61% secara tahunan. Namun, jika rupiah bertahan lemah di kisaran Rp 17.500 hingga Rp 17.700 per dolar Amerika Serikat (AS), sektor yang bergantung pada bahan baku impor diperkirakan menghadapi tekanan biaya yang semakin berat.
Baca Juga: Kebijakan DHE SDA Belum Cukup Kuat Bawa Rupiah ke Level Rp 15.000 Sektor Paling Rentan Terhadap Pelemahan Rupiah
Josua menyebut sejumlah sektor manufaktur paling rentan terhadap pelemahan rupiah, antara lain petrokimia, plastik, farmasi, elektronik, mesin, otomotif, tekstil, serta makanan dan minuman. Tekanan tersebut juga mulai tercermin dari indikator aktivitas manufaktur. Data PMI manufaktur Indonesia dari S&P Global pada April 2026 turun ke level 49,1, yang menandakan zona kontraksi. Dalam laporan tersebut, perang di Timur Tengah turut mendorong inflasi biaya input ke level tertinggi dalam empat tahun. Sementara itu, produksi tercatat turun paling tajam sejak Mei 2025 dan tingkat kepercayaan usaha melemah ke titik terendah sejak November tahun sebelumnya. “Artinya, pelemahan rupiah datang pada saat industri sudah menghadapi tekanan dari harga energi, gangguan rantai pasok, dan permintaan yang mulai tertahan,” katanya.
Biaya Produksi dan Investasi Meningkat
Josua menegaskan bahwa jika kondisi ini berlanjut, kontribusi manufaktur terhadap PDB memang masih akan tetap positif, namun laju pertumbuhannya berisiko melambat pada triwulan II dan III 2026.
Baca Juga: Kepala BP BUMN Angkat Bicara Soal Kasus Pengambilan Getah Karet PTPN Ia menjelaskan, struktur biaya industri Indonesia masih sangat bergantung pada impor, dengan porsi bahan baku dan bahan pembantu mencapai sekitar 82% dari total biaya input manufaktur. Ketergantungan ini membuat pelemahan rupiah langsung berdampak pada biaya produksi. Selain itu, defisit perdagangan nonmigas Indonesia terhadap Tiongkok yang mencapai US$ 5,23 miliar pada Januari–Februari 2026 turut mencerminkan tingginya ketergantungan terhadap barang modal dan komponen impor. Akibatnya, pelemahan rupiah tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga memperbesar biaya investasi untuk pembelian mesin, ekspansi kapasitas, hingga pembangunan pabrik baru. “Keputusan ekspansi bisa ditunda karena biaya proyek menjadi lebih mahal dan permintaan meningkat,” katanya.
Tekanan Harga hingga Daya Beli Masyarakat
Dampak pelemahan rupiah terhadap harga barang diperkirakan muncul secara bertahap. Pada tahap awal, perusahaan cenderung menahan kenaikan harga dengan mengurangi margin keuntungan, menggunakan stok lama, atau menunda penyesuaian harga jual. Namun, apabila rupiah tetap lemah dalam satu hingga dua kuartal ke depan, tekanan biaya diperkirakan sulit ditahan dan akan mulai diteruskan ke harga barang. Produk yang berpotensi terdampak antara lain makanan olahan, obat-obatan, elektronik, suku cadang, kendaraan, produk plastik, tekstil, hingga barang rumah tangga. Selain itu, pelemahan rupiah juga berpotensi menekan daya beli masyarakat, terutama setelah kebijakan pengetatan moneter oleh Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.
Baca Juga: Kebijakan DHE Belum Cukup Kuat Kerek Rupiah ke Rp 15.000, Ini Penjelasannya Kenaikan suku bunga ini berpotensi meningkatkan beban cicilan kredit untuk pembelian rumah, kendaraan, elektronik, maupun modal usaha.
“Jika kenaikan harga manufaktur dan cicilan terjadi secara bersamaan, daya beli kelas menengah dan kelompok rentan akan lebih mudah tertekan,” jelasnya.
Prospek Ekonomi 2026 Masih Bertahan di Atas 5%
Josua memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat bertahan di atas 5% pada tahun ini. Namun, peluang percepatan ekonomi menjadi semakin terbatas apabila tekanan dari rupiah yang lemah, harga minyak yang tinggi, dan biaya pembiayaan yang meningkat terus berlanjut. “Dalam skenario dasar, pertumbuhan Indonesia masih berkisar 5,0% hingga 5,2%, tetapi akan sulit mendekati target optimistis jika rupiah, minyak, dan biaya pembiayaan tetap tinggi,” tandasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News