KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (16/6/2026). Meski pelemahannya relatif tipis, sejumlah sentimen global dan domestik masih membayangi pergerakan mata uang Garuda. Mengutip data
Bloomberg, rupiah
spot ditutup pada level Rp 17.725 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (16/6/2026), melemah 0,09% dibandingkan penutupan pasar Senin kemarin yang ada di Rp 17.709 per dolar AS. Sementara itu, kurs Jisdor Bank Indonesia (BI) tercatat menguat 0,33% pada penutupan perdagangan Senin (15/6/2026) menjadi Rp 17.921 per dolar AS.
Baca Juga: Kesepakatan Damai AS–Iran, Begini Proyeksi Valas Utama Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik global, khususnya kesepakatan awal antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz. Menurut Ibrahim, kabar tersebut sempat meredakan kekhawatiran pasar terhadap inflasi global dan mendorong penurunan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent bahkan turun ke level terendah dalam tiga bulan terakhir, sementara pasar saham global menguat karena ekspektasi biaya energi yang lebih rendah dapat membantu meredakan tekanan inflasi. Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu implementasi kesepakatan tersebut. "Investor menunggu rincian mengenai waktu implementasi perjanjian tersebut karena gencatan senjata permanen masih perlu dinegosiasikan," ujar Ibrahim, Selasa (16/6/2026). Selain faktor geopolitik, perhatian pasar juga tertuju pada keputusan sejumlah bank sentral utama dunia. Bank Sentral Jepang (BOJ) baru saja menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 1%, level tertinggi dalam 31 tahun. Di sisi lain, Bank Sentral Australia mempertahankan suku bunga di level 4,35%. Dari dalam negeri, Ibrahim melihat kekhawatiran pasar turut dipengaruhi oleh memanasnya kembali isu perang dagang. Rencana Amerika Serikat untuk mengenakan tarif impor tambahan terhadap sejumlah produk Indonesia dinilai berpotensi menekan kinerja ekspor manufaktur nasional.
Baca Juga: Ada Puluhan Emiten Bakal Bagi Dividen Pekan Ini, Simak Daftar dan Saran Analis Menurutnya, kebijakan tersebut tidak hanya berisiko mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar AS, tetapi juga dapat berdampak terhadap utilisasi pabrik, investasi, hingga penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur. Risiko tersebut muncul setelah pemerintah AS berencana menerapkan tarif tambahan berdasarkan Pasal 301 Trade Act 1974 secara bertahap mulai 24 Juli 2026. Sebelumnya, Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) juga telah menetapkan
forced labor tariff sebesar 10% terhadap Indonesia dan lima negara lainnya. Pemerintah bahkan memperkirakan tarif terhadap produk Indonesia dapat meningkat hingga 18% setelah investigasi terkait kapasitas berlebih (
excess capacity) selesai dilakukan. Untuk perdagangan Rabu (17/6), Ibrahim menilai fokus pasar akan beralih ke agenda kebijakan moneter global. Pelaku pasar menantikan hasil rapat Federal Reserve (The Fed) dan Bank of England (BOE) yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Selain itu, investor juga akan mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh guna mencari petunjuk arah kebijakan moneter AS ke depan. Data inflasi yang masih relatif tinggi membuat pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini. Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.690 hingga Rp 17.728 per dolar AS pada perdagangan Rabu (17/6).
Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Beri Penjelasan ke BEI Terkait Penggeledahan Terkait Korupsi Gula Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News