KONTAN.CO.ID - Mayoritas mata uang Asia tercatat menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, seiring meningkatnya selera risiko investor di tengah optimisme meredanya tensi geopolitik. Namun demikian, won Korea Selatan justru menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan.
Baca Juga: India Kerek Harga Bensin dan Diesel untuk Keempat Kalinya di Mei 2026 Berdasarkan data pasar pada Senin (25/5/2026), yen Jepang menguat 0,23% ke level 158,83 per dolar AS, sementara dolar Singapura naik 0,24% ke 1,276. Dolar Taiwan juga terapresiasi 0,45% ke 31,426. Di kawasan Asia Tenggara, baht Thailand menguat 0,56% ke 32,420, peso Filipina naik 0,27% ke 61,427, dan rupiah Indonesia tercatat melemah tipis 0,23% ke 17.730 per dolar AS. Rupee India tercatat stagnan di level 95,690. Sementara itu, yuan China menguat 0,23% ke 6,782 per dolar AS, dan ringgit Malaysia juga menguat 0,43% ke 3,948. Di sisi lain, won Korea Selatan justru melemah 0,63% ke level 1.517,6 per dolar AS, menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia pada sesi perdagangan tersebut. Secara
year to date (YtD), sebagian besar mata uang Asia masih berada di bawah tekanan terhadap dolar AS.
Baca Juga: Tembus Batas Baru, Huawei Targetkan Desain Chip Setara 1,4 nm pada 2031 Rupiah misalnya, tercatat melemah 5,98% dibanding akhir 2025, sementara won Korea turun 5,15% dan rupee India melemah 6,08%. Sementara itu, yuan China dan ringgit Malaysia masih mencatatkan penguatan masing-masing 3,04% dan 2,74% sepanjang tahun berjalan. Pergerakan mata uang Asia ini mencerminkan dinamika pasar yang masih dipengaruhi ketidakpastian global, termasuk arah suku bunga AS, perkembangan geopolitik, serta prospek pertumbuhan ekonomi kawasan.