KONTAN.CO.ID - Saham-saham negara berkembang atau emerging markets (EM) menguat pada perdagangan Senin (10/8/2026), setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan meredakan kekhawatiran kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Data pekerjaan AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja. Kondisi tersebut mendorong investor mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed dan kembali meningkatkan minat terhadap aset berisiko.
Baca Juga: Redam Kenaikan Harga Gula, India Pertimbangkan Pembatasan Tebu untuk Etanol Melansir
Reuters, MSCI Emerging Markets Index naik 0,73% pada Senin, setelah melemah sepanjang pekan sebelumnya. Sementara indeks mata uang negara berkembang MSCI menguat 0,11%. Pergerakan pasar negara berkembang turut mengikuti Wall Street. Indeks S&P 500 ditutup di level rekor pada Jumat (7/8), setelah data ketenagakerjaan Juli AS menurunkan peluang The Fed menaikkan suku bunga. Namun, sentimen positif tersebut masih dibayangi risiko kenaikan harga minyak. Iran pada akhir pekan kembali menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada pemenuhan sejumlah tuntutan oleh Washington. Ketidakpastian tersebut berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan kembali tekanan inflasi. Konflik AS-Iran yang telah memasuki bulan keenam juga belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian meski upaya diplomasi terus dilakukan. "Pasar tenaga kerja yang rapuh mengindikasikan bahwa FOMC dapat membiarkan guncangan harga energi berlalu," ujar Samuel Tombs, kepala ekonom AS di Pantheon Macroeconomics.
Baca Juga: Meta Luncurkan AI Baru Muse Glimmer, Zuckerberg Tantang Dominasi China Rupiah menguat Di kawasan Asia, rupiah menjadi salah satu mata uang yang mencatat penguatan signifikan. Rupiah menguat 0,75% terhadap dolar AS dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari tujuh pekan. Penguatan rupiah terjadi di tengah perhatian investor terhadap perkembangan kebijakan moneter domestik setelah Presiden Prabowo Subianto mengusulkan Destry Damayanti sebagai satu-satunya calon Gubernur Bank Indonesia berikutnya. Destry yang saat ini menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia dinilai berpotensi meredakan kekhawatiran pasar setelah Perry Warjiyo secara tiba-tiba mengundurkan diri dari posisi Gubernur BI pada akhir bulan lalu dengan alasan pribadi. Sementara itu, pasar saham Indonesia bergerak fluktuatif. Indeks saham Indonesia ditutup melemah 0,69% setelah sempat bergerak naik dan turun sepanjang perdagangan.
Baca Juga: UEFA, AFC dan CONCACAF Serang Infantino soal Skema Hak Komersial Piala Dunia Saham Asia menguat Indeks KOSPI Korea Selatan menguat 0,65% dan mengakhiri tren penurunan selama tujuh pekan berturut-turut. Pergerakan saham Korea Selatan turut mencerminkan perubahan cepat sentimen investor terhadap sektor kecerdasan buatan (AI). Di China, Shanghai Composite naik 0,67%. Data resmi yang dirilis pada Minggu menunjukkan inflasi harga produsen (PPI) China turun lebih besar dari perkiraan pada Juli dan mencatat pelemahan terdalam dalam tiga bulan. Inflasi konsumen China juga melambat pada periode yang sama. Menurut Jim Reid, kepala riset makro dan tematik global Deutsche Bank, data tersebut sebagian mencerminkan melemahnya momentum ekonomi domestik China. Di Eropa, saham Romania menguat 0,89% menjelang keputusan suku bunga bank sentral negara tersebut. Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan suku bunga akan dipertahankan. Saham Polandia, salah satu pasar utama di kawasan Eropa Timur, juga naik 0,23%.
Baca Juga: Bursa Global Menguat Tipis Senin (10/8), Investor Pantau Inflasi AS dan Selat Hormuz Investor menanti data inflasi AS Meski pasar negara berkembang memperoleh dorongan dari pelemahan data tenaga kerja AS, investor tetap berhati-hati terhadap risiko inflasi. Analis menilai satu laporan ketenagakerjaan yang lemah belum cukup untuk memastikan The Fed akan mengalihkan fokus dari risiko inflasi, terutama jika harga energi tetap tinggi. "Investor mulai lelah dengan situasi Iran. Perkembangannya menjadi sangat tidak terduga," kata Louis Navellier, Chief Investment Officer di Navellier & Associates.
Strategis ING juga mengingatkan bahwa masih terdapat sejumlah hambatan besar sebelum tercapai kesepakatan yang lebih luas terkait konflik tersebut.
Baca Juga: Badai Dolphin Menghantam Timur China, Hampir 950 Penerbangan di Shanghai Dibatalkan Perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan inflasi konsumen AS atau Consumer Price Index (CPI) meningkat 3,4% secara tahunan. Data inflasi tersebut akan menjadi salah satu indikator penting bagi investor dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.