Rupiah mencoba bertahan



JAKARTA. Deflasi Maret 2017 gagal menopang nilai tukar rupiah. Meski tipis, kurs spot rupiah terpeleset 0,02% jadi Rp 13.325 per dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (3/4). Kurs tengah rupiah Bank Indonesia juga melemah 0,02% jadi Rp 13.324 per dollar AS.

Putu Agus Pransuamitra, Research and Analyst Monex Investindo Futures, menjelaskan, rupiah melemah tipis akibat pelaku pasar mulai yakin The Fed menaikkan lagi suku bunga pada Juni 2017. "Pasar sedang menanti data tenaga kerja AS yang akan rilis akhir pekan ini. Sampai saat ini data tersebut diprediksi positif," ujar Putu, Senin (3/4).

Ditambah lagi, pasar masih dibalut kecemasan pemisahan diri Britania Raya dari Uni Eropa. "Sehingga memang dari eksternal bayangnya masih negatif dan untuk sesaat aset berisiko dihindari. Wajar rupiah dalam posisi tidak menguntungkan," jelas Putu.


Hanya saja, menurut Nurdiyanto, Analis Riset Treasury Bank Negara Indonesia, posisi rupiah bisa bertahan setelah data inflasi Indonesia Maret 2017 dirilis lebih baik dari dugaan pasar. Badan Pusat Statistik melaporkan terjadi deflasi 0,02% di Maret, sementara pasar memprediksi Maret akan inflasi sebesar 0,05%. "Rupiah masih mampu menjaga pergerakan konsolidasi," kata dia.

Nurdiyanto memprediksi, Selasa (4/4) nilai tukar rupiah berpotensi menguat dan bergerak di antara Rp 13.310-Rp 13.340 per dollar AS. Sedang Putu memperkirakan rupiah akan melemah terbatas dan bergerak di kisaran Rp 13.300-Rp 13.340 per dollar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto