KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS berpotensi menekan daya beli masyarakat. Tekanan tersebut tidak hanya berasal dari kenaikan harga barang impor, tetapi juga dapat merambat ke harga produk domestik melalui kenaikan biaya bahan baku dan barang penolong impor. Untuk diketahui, Nilai tukar rupiah di pasar tak mampu keluar dari tekanan hingga akhir perdagangan hari ini. Rabu (12/8/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.894 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah menguat 0,49% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.981 per dolar AS. Alhasil rupiah menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, pelemahan rupiah memang tidak serta-merta membuat harga barang impor naik secara satu banding satu. Dampaknya terhadap harga konsumen bergantung pada sejumlah faktor, seperti kontrak pembelian, persediaan lama, penggunaan lindung nilai, kemampuan produsen menyerap kenaikan biaya, serta kebijakan subsidi pemerintah. "Jika rupiah bertahan di sekitar Rp18.000 per dolar AS, harga barang impor memang cenderung naik, tetapi tidak serta-merta dan tidak satu banding satu dengan pelemahan kurs," kata Josua kepada Kontan, Rabu (30/9/2026).
Baca Juga: Pelemahan Rupiah Picu Lonjakan Biaya Produksi Petani Menurutnya, dampak awal pelemahan rupiah biasanya lebih dulu terlihat pada kenaikan harga pokok importir dan produsen. Setelah itu, kenaikan biaya tersebut dapat diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga barang. Josua menilai, dampak terhadap daya beli justru perlu dilihat dari besarnya ketergantungan industri domestik terhadap bahan baku impor. Pasalnya, produk yang dikonsumsi masyarakat tidak selalu merupakan barang impor secara langsung. Data BPS menunjukkan impor bahan baku dan barang penolong pada Januari–Maret 2026 mencapai US$ 43,17 miliar. Nilai tersebut jauh lebih besar dibandingkan impor barang konsumsi yang mencapai US$5,15 miliar. "Artinya, pelemahan rupiah dapat masuk ke harga barang domestik melalui kenaikan biaya produksi, meskipun produk akhirnya dibuat di Indonesia. Inilah sebabnya dampak kurs mempunyai jangkauan yang lebih luas daripada sekadar membuat barang impor jadi lebih mahal," jelasnya. Dengan demikian, pelemahan rupiah dapat menciptakan tekanan terhadap daya beli melalui kenaikan biaya produksi. Ketika biaya impor meningkat, perusahaan memiliki pilihan untuk menaikkan harga jual atau menekan margin keuntungan. Jika kenaikan biaya akhirnya diteruskan ke konsumen, inflasi berpotensi meningkat. Sementara apabila pendapatan masyarakat tidak tumbuh secepat kenaikan harga, daya beli atau pendapatan riil rumah tangga akan ikut tertekan. "Rantainya adalah rupiah melemah, biaya impor dan produksi naik, perusahaan memilih menaikkan harga atau menekan keuntungan, inflasi meningkat, kemudian pendapatan riil rumah tangga turun," ujar Josua.
Baca Juga: Daya Beli Tertekan, Kenaikan Harga dan Biaya Produksi Ancam Pertumbuhan Ekonomi Ia menjelaskan, masyarakat kemudian berpotensi mengurangi jumlah barang yang dibeli atau mengalihkan pengeluaran dari kebutuhan yang dapat ditunda menuju kebutuhan pokok. Kelompok berpendapatan rendah menjadi lebih rentan karena porsi pengeluaran untuk makanan, transportasi dan energi relatif besar. Sementara itu, kelompok kelas menengah cenderung mengurangi konsumsi barang tahan lama seperti kendaraan dan elektronik, maupun pengeluaran untuk rekreasi dan perjalanan. Adapun produk yang memiliki kandungan impor tinggi dan siklus persediaan pendek akan lebih cepat merasakan dampak pelemahan rupiah. Produk tersebut antara lain bahan bakar dan energi, pangan dengan bahan baku impor seperti gandum dan kedelai, barang elektronik, telepon genggam, komputer, mesin dan peralatan mekanis, suku cadang kendaraan, serta bahan kimia dan plastik. Namun, Josua menilai dampak pelemahan rupiah terhadap harga konsumen tidak selalu terjadi dalam waktu cepat. Apabila pelemahan hanya berlangsung sementara, perusahaan masih dapat menggunakan persediaan lama, kontrak pembelian sebelumnya, maupun instrumen lindung nilai untuk menahan kenaikan biaya. Sebaliknya, apabila rupiah bertahan di sekitar Rp18.000 dalam waktu lama, tekanan terhadap harga akan semakin besar ketika persediaan lama habis dan perusahaan mulai melakukan pembelian atau kontrak impor baru dengan kurs yang lebih mahal. "Kalau pelemahan rupiah berlangsung singkat, pemerintah dan produsen masih dapat menyerap sebagian kenaikan biaya. Tetapi apabila Rp18.000 bertahan cukup lama, penyesuaian harga menjadi semakin sulit dihindari karena persediaan lama habis dan kontrak impor baru dibuat dengan kurs yang lebih mahal," katanya. Karena itu, Josua menilai kebijakan pemerintah perlu diarahkan untuk menjaga daya beli tanpa menahan seluruh kenaikan harga melalui subsidi umum. Pemerintah dapat menjaga kecukupan pasokan pangan dan barang kebutuhan pokok, memperlancar distribusi, serta memberikan bantuan yang lebih terarah kepada kelompok masyarakat yang paling terdampak.
Dalam jangka menengah, penguatan produksi bahan baku domestik juga diperlukan untuk mengurangi transmisi pelemahan rupiah terhadap harga barang di dalam negeri. "Masalah utamanya bukan semata rupiah menyentuh Rp18.000, tetapi apakah level tersebut bertahan cukup lama untuk diteruskan ke harga konsumen," pungkas Josua.
Baca Juga: Pelemahan Rupiah Justru Beratkan Industri Manufaktur, Biaya Produksi Ikut Melonjak Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News