KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih dalam tren pelemahan, imbas geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Rupiah spot berbalik melemah pada perdagangan Kamis (5/3/2026) siang. Pukul 12.08 WIB, rupiah spot ada di level Rp 16.896 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,02% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.892 per dolar AS. Dengan melemahnya nilai tukar rupiah tersebut, haruskah Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga atau BI-Rate?
Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai meskipun rupiah mendapat tekanan dari faktor eksternal, kinerjanya masih tergolong cukup baik. Nilai tukar rupiah, menurutnya, masih berada di bawah level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: PTTUN Batalkan Kemenangan Indobuildco, Negara Ambil Hotel Sultan Makin Terbuka Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari arus keluar modal di pasar keuangan. Hal ini terjadi ketika investor global cenderung bersikap
risk averse dan melakukan aksi ambil untung di pasar saham maupun surat utang negara. “Tapi ternyata rupiah kami masih cukup baik ya, masih di bawah Rp 17.000 per dollar AS. Terus juga secara umum dari kondisi inflasi, walaupun kemarin inflasi
headline-nya naik ke 4,74%
year on year (yoy)
,” tutur Myrdal kepada Kontan, Kamis (5/3/2026). Selain faktor nilai tukar, kondisi inflasi domestik juga dinilai belum menjadi alasan kuat bagi BI untuk menaikkan suku bunga. Ia mencatat inflasi utama sempat naik menjadi sekitar 4,74% yoy. Namun inflasi inti masih berada di bawah 3% dan tetap berada dalam kisaran target BI sebesar 1,5%–3,5%. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan tekanan inflasi domestik masih relatif terjaga. Myrdal juga menilai risiko inflasi impor akibat lonjakan harga minyak dunia masih terbatas. Pasalnya hingga saat ini pemerintah belum berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite maupun solar. Dengan kondisi tersebut, ia menilai BI belum memiliki urgensi untuk menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Saat ini suku bunga atau Bi-Rate berada di level 4,75%. “Jadi untuk saat ini saya belum lihat BI akan ada langkah untuk melakukan kebijakan kenaikan suku bunga,” ungkapnya.
Baca Juga: Ini Skenario Pemerintah Terkait Dampak Memanasnya Konflik Iran dengan Israel dan AS Lebih lanjut, ia membeberkan, saat ini perekonomian domestik justru membutuhkan kondisi suku bunga yang stabil untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Meski peluang penurunan suku bunga juga masih terbatas, setidaknya stabilitas suku bunga dinilai penting untuk menjaga momentum ekonomi.
Apalagi pemerintah juga tengah menjalankan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas harga, seperti stabilisasi pasokan pangan menjelang Ramadan dan Lebaran serta kebijakan menjaga harga BBM bersubsidi. Selain itu, pemerintah juga memberikan stimulus pada tarif transportasi udara dan darat selama periode mudik Lebaran. Dengan berbagai kebijakan tersebut, Myrdal menilai sinergi pemerintah dan BI saat ini lebih diarahkan pada menjaga stabilitas inflasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. “Jadi seharusnya peluang BI menaikkan suku bunga dalam waktu dekat saya rasa masih kecil sih seharusnya,” tandasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News