KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah dan won Korea Selatan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (23/9/2026). Sementara itu, mayoritas mata uang Asia lainnya bergerak terbatas di tengah perhatian pasar terhadap prospek suku bunga global dan perkembangan geopolitik. Mengacu pada data
Reuters pada pukul 02.08 GMT, rupiah menguat 0,14% ke level Rp 17.825 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 17.850 per dolar AS.
Baca Juga: CEO GM Marry Barra Dikabarkan Hadiri Jamuan Makan Malam Kenegaraan Trump-Xi Jinping Won Korea Selatan menjadi salah satu mata uang Asia yang menguat, yakni 0,15% ke level 1.351,90 per dolar AS dari 1.353,92 per dolar AS. Dolar Taiwan juga menguat 0,09% menjadi 31,680 per dolar AS. Ringgit Malaysia naik tipis 0,07% ke 4,067 per dolar AS, sementara dolar Singapura menguat 0,07% menjadi 1,276 per dolar AS. Di sisi lain, yen Jepang melemah 0,16% ke 157,63 per dolar AS. Baht Thailand turun 0,13% menjadi 33,160 per dolar AS, peso Filipina melemah 0,10% ke 62,551, sedangkan yuan China turun tipis 0,03% menjadi 6,703 per dolar AS. Rupee India bergerak stabil di 95,590 per dolar AS.
Baca Juga: Bursa Asia Naik Enam Hari Beruntun Rabu (23/9), Reli Saham Teknologi Jadi Pendorong Kinerja mata uang Asia sepanjang 2026 Pergerakan mata uang Asia sepanjang tahun ini menunjukkan kinerja yang cukup beragam. Rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terbesar. Sejak akhir 2025, rupiah melemah 6,11% berdasarkan data Reuters, dari level 16.670 menjadi sekitar Rp 17.755 per dolar AS. Rupee India juga melemah 5,81%, diikuti peso Filipina yang turun 4,79% dan baht Thailand yang terkoreksi 4,13%.
Sebaliknya, won Korea Selatan mencatat penguatan 4,39% sejak akhir 2025. Yuan China juga menguat 3,97%, sedangkan dolar Singapura naik 1,16%. Ringgit Malaysia menguat 0,75%, sementara yen Jepang melemah 1,70% sepanjang tahun berjalan. Pergerakan mata uang Asia masih dipengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral utama, terutama Federal Reserve, serta perkembangan harga komoditas dan kondisi geopolitik global.
Baca Juga: Dolar AS Bertahan di Level Tertinggi 2 Bulan Rabu (23/9), Cermati Kenaikan Suku Bunga