KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penguatan nilai tukar rupiah belakangan ini dinilai menjadi sentimen positif bagi prospek cadangan devisa (cadev) Indonesia. Namun, penguatan rupiah belum serta-merta mendorong cadangan devisa terus meningkat. Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah menguat total 1,66% sepanjang Agustus dari posisi akhir Juli yang berada di Rp 18.022 per dolar AS. Pada 31 Agustus 2026 kurs rupiah di pasar spot mencapai Rp 17.722 per dolar AS. Lead Economist Bank Danamon Indonesia, Irman Faiz menilai, penguatan rupiah dapat mengurangi kebutuhan intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar valuta asing (valas). Meski demikian, pergerakan cadangan devisa juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal dan domestik.
“Penguatan Rupiah belakangan ini cukup positif bagi outlook cadangan devisa, terutama karena dapat mengurangi kebutuhan intervensi BI di pasar valas. Namun, penguatan Rupiah tidak serta-merta berarti cadangan devisa akan terus meningkat,” ujar Faiz kepada Kontan, Senin (7/9/2026).
Baca Juga: Cadangan Devisa Agustus 2026 Naik Jadi US$ 146,5 Miliar Menurutnya, pergerakan cadangan devisa juga ditentukan oleh arus modal asing, transaksi perdagangan dan transaksi berjalan (
current account), serta pembayaran maupun penarikan utang luar negeri pemerintah. Untuk September 2026, cadangan devisa diperkirakan relatif stabil dengan kecenderungan sedikit menurun Dari Agustus 2026. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak global yang berpotensi kembali menekan neraca perdagangan Indonesia. Adapun posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 mencapai US$ 146,5 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan posisi akhir Juli 2026 sebesar US$ 145,3 miliar. Di sisi lain, Faiz melihat kebutuhan valas domestik masih tinggi, terutama untuk memenuhi kebutuhan impor. Selain itu, transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II-2026 masih mencatat defisit sebesar US$ 12,5 miliar atau setara 3,3% dari produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, hingga akhir 2026, Faiz memperkriakan cadangan devisa diproyeksikan berada di sekitar US$ 147,5 miliar.
Baca Juga: Penguatan Rupiah Tak Otomatis Dongkrak Cadangan Devisa, Ini Alasannya “Jadi, baseline kami memang melihat adanya pemulihan secara gradual dari posisi saat ini, tetapi belum kembali ke US$156,5 miliar pada akhir 2025,” jelasnya. Ke depan, terdapat sejumlah faktor yang akan menentukan arah cadangan devisa Indonesia. Pertama, sentimen risiko global, khususnya arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed, pergerakan imbal hasil US Treasury, serta dolar AS. Perkembangan tersebut akan memengaruhi arus modal portofolio ke negara-negara emerging market, termasuk Indonesia. Kedua, perkembangan neraca eksternal domestik, terutama neraca perdagangan, kebutuhan impor, serta posisi transaksi berjalan. Ketiga, kebutuhan stabilisasi rupiah oleh BI dan transaksi valas pemerintah, termasuk pembayaran serta penarikan utang luar negeri.
Meski demikian, kondisi cadangan devisa Indonesia saat ini masih dinilai cukup kuat. Posisi cadev sebesar US$ 146,5 miliar setara dengan sekitar 5,4 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. “Fokusnya bukan sekadar apakah cadev naik setiap bulan, tetapi apakah levelnya tetap memadai untuk menyerap volatilitas eksternal. Sejauh ini kami melihat buffer tersebut masih cukup sehat,” pungkasnya.
Baca Juga: Gubernur BI Destry: Cadangan Devisa Indonesia Tembus US$ 146 Miliar pada Agustus 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News