Rupiah Menguat di Tengah Sentimen Global, Ini Pemicu Utamanya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat tipis pada perdagangan Kamis (6/8/2026), didukung oleh meredanya harga minyak mentah dunia serta rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melampaui ekspektasi pasar.

Meski demikian, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas karena pelaku pasar memilih menunggu sejumlah data ekonomi penting.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (6/8/2026), kurs rupiah di pasar spot ditutup menguat Rp 10 atau 0,06% ke level Rp 17.923 per dolar Amerika Serikat (AS).


Sejalan dengan itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) juga ditutup menguat 0,1% menjadi Rp 17.919 per dolar AS.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah didorong oleh penurunan harga minyak mentah dunia di tengah harapan pembukaan kembali Selat Hormuz. Saat ini, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 75,9 per barel atau melemah 9,1% dalam sepekan.

Baca Juga: Kinerja Keuangan CMRY Semester I-2026: Pendapatan dan Laba Tumbuh Dua Digit

Selain itu, sentimen positif turut datang dari data produk domestik bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026 yang dinilai solid karena melampaui ekspektasi pasar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai 5,29% secara tahunan (year on year/YoY). Meski demikian, laju pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 5,61% YoY.

"Namun penguatan rupiah ke depan masih terbatas, dengan investor cenderung wait and see," ungkap Lukman kepada Kontan, Kamis (6/8/2026).

Menurut Lukman, pelaku pasar saat ini lebih memilih bersikap hati-hati menjelang rilis sejumlah indikator ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun Amerika Serikat.

Ia menjelaskan, investor tengah menantikan data cadangan devisa (cadev) Indonesia serta laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat atau nonfarm payrolls (NFP) yang dijadwalkan dirilis pada Jumat (7/8/2026).

Baca Juga: Margin Tertekan, Kualitas Pertumbuhan Kalbe Farma (KLBF) Belum Optimal

Selain itu, pasar juga mencermati rilis data ISM Services Amerika Serikat yang akan diumumkan pada Kamis malam waktu Indonesia. Namun, dampaknya diperkirakan tidak akan sebesar pengaruh data NFP terhadap pergerakan pasar keuangan global.

Di sisi lain, perkembangan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz serta arah pergerakan harga minyak mentah dunia masih menjadi faktor yang akan diperhatikan investor dalam beberapa waktu ke depan.

Untuk perdagangan Jumat (7/8/2026), Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.850 hingga Rp 17.950 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News