KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah berhasil mengakhiri perdagangan pekan ini di zona hijau. Meski demikian, penguatan tersebut belum mampu menghapus pelemahan secara mingguan. Mengutip
Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,49% secara harian ke level Rp 18.022 per dolar AS pada Jumat (31/7/2026). Namun secara mingguan, rupiah masih melemah 0,32% dibandingkan posisi Rp 17.963 per dolar AS pada Jumat (24/7/2026). Ekonom Makro Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, mengatakan penguatan rupiah sejalan dengan apresiasi mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat.
Baca Juga: Pendapatan Bumi Serpong Damai (BSDE) Turun 25,64%, Laba Bersih Terpangkas 52,82% Menurut dia, pelemahan dolar AS pasca keputusan Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan menjadi salah satu faktor utama yang menopang penguatan mata uang kawasan, termasuk rupiah. Suku bunga acuan The Fed saat ini ditahan di kisaran 3,50% hingga 3,75%. "Tren pelemahan US$ secara global, terutama pasca keputusan The Fed yang tidak melakukan perubahan bunga moneter di rapat moneter terakhir," ungkap Myrdal kepada Kontan, Jumat (31/7/2026). Selain itu, ia menilai derasnya aliran dana asing (hot money inflow) ke pasar keuangan domestik turut memberikan dukungan terhadap rupiah. Hal ini terjadi karena investor global kembali melirik pasar negara berkembang yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, termasuk Indonesia. Myrdal mencatat investor asing membukukan net buy di pasar saham sebesar US$ 511 juta sepanjang 29-30 Juli 2026. Sementara itu, kepemilikan investor asing di pasar Surat Utang Negara (SUN) meningkat dari Rp 891,47 triliun pada 28 Juli menjadi Rp 892,04 triliun pada 29 Juli 2026. Meski pada sisi lain, Myrdal melihat pergerakan rupiah akan menguat terbatas terhadap dolar AS. Iaa memperkirakan rupiah masih rentan melemah jika terdapat gejolak geopolitik global dengan disertai harga minyak yang kembali meningkat.
Baca Juga: Elnusa (ELSA) Catat Kinerja Operasional Positif Semester I-2026 Namun, ia juga melihat pasokan valas dari konversi devisa hasil ekspor (DHE), aliran dana ke pasar keuangan dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta masuknya investasi asing langsung alias
foreign direct investment (FDI) berpotensi menopang stabilitas rupiah. Untuk perdagangan Senin (3/8), pelaku pasar diperkirakan akan mencermati serangkaian rilis data ekonomi global, terutama indeks PMI manufaktur negara-negara maju. Dari dalam negeri, perhatian pasar akan tertuju pada data inflasi, neraca perdagangan, serta PMI manufaktur Indonesia. Selain itu, perkembangan geopolitik global juga dinilai tetap menjadi faktor penting karena dapat memengaruhi ekspektasi inflasi melalui pergerakan harga minyak dunia. Myrdal memperkirakan inflasi Indonesia pada Juli 2026 sedikit melambat menjadi 0,39% secara bulanan, dibandingkan 0,44% pada Juni 2026. Secara tahunan, inflasi diproyeksikan berada di level 3,43%.
Ia menjelaskan tekanan inflasi masih berasal dari kenaikan harga pangan seperti cabai merah, telur ayam, dan daging ayam, serta meningkatnya biaya pendidikan pada periode tahun ajaran baru. Namun, penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex membantu meredam tekanan inflasi. Myrdal memproyeksikan pergerakan rupiah pada Senin (3/8) berada di kisaran level Rp 18.029 per dolar AS hingga Rp 18.111 per dolar AS.
Baca Juga: Permintaan Emas di Indonesia Melonjak 40%, Simak Prospeknya hingga Akhir 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News