Rupiah menguat ditopang intervensi BI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kemarin, rupiah di pasar spot menanjak 0,11% menjadi Rp 14.086 per dollar Amerika Serikat (AS). Namun, valuasi mata uang Garuda di kurs tengah Bank Indonesia tercatat masih melemah tipis 0,09% ke level Rp 14.102 per dollar AS.

Menurut Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Lana Soelistianingsih, keunggulan rupiah tidak luput dari peran interfensi yang dilakukan BI. Selain itu, pasar pun menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dilaksanakan 28 Juni mendatang.

Besar kemungkinan, bank sentral Indonesia tersebut akan kembali menaikkan suku bunga acuan. Pasalnya, the greenback masih dalam tren menguat setelah The Federal Reserve menyampaikan pernyataan hawkish, yakni kenaikan suku bunga acuan AS dua kali lagi di tahun ini.Rupiah berhasil menguat di perdagangan akhir pekan ini.


"Harapannya kenaikan suku bunga yang direncanakan BI minggu depan kemungkinan bisa membuat rupiah menguat," kata dia, Jumat (22/6).

Selain terpapar sentimen dari The Fed, rupiah juga mendapat tekanan dari memanasnya perang dagang antara AS dan China. Aksi perang tarif antar-dua negara adikuasa ini membuat ketidakpastian global.

Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong menambahkan, koreksi dollar AS terjadi karena the greenback sudah menguat signifikan dalam sepekan terakhir.

Pekan depan, Lukman memperkirakan, rupiah masih dalam tren penurunan. Soalnya, belum ada data ekonomi yang dapat menopang keunggulan rupiah.

Lukman menghitung, pergerakan rupiah pekan depan ada di kisaran Rp 14.000–Rp 14.200 per dollar AS. Sedangkan Lana memproyeksikan, mata uang Garuda berada dalam rentang Rp 14.000–Rp 14.100 per dollar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie