Rupiah Menguat Hampir 1% Sepekan, Berhasil Putus Tren Pelemahan 11 Pekan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan. Sentimen positif dari meredanya ketegangan geopolitik global dan derasnya aliran modal asing ke instrumen domestik menjadi penopang utama mata uang Garuda.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.860 per dolar AS pada Jumat (12/6/2026), menguat 0,72% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp 17.989 per dolar AS. Secara mingguan, rupiah menguat 0,98% dari posisi Rp 18.188 per dolar AS pada awal pekan.

Penguatan serupa juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Nilai tukar rupiah bergerak dari Rp 18.171 per dolar AS pada Senin (8/6) menjadi Rp 17.921 per dolar AS pada Jumat (12/6) atau menguat sekitar 1,38% dalam sepekan.


Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan penguatan rupiah didorong kombinasi faktor eksternal dan domestik.

Baca Juga: Rupiah Masih Berpotensi Bergejolak di Semester II 2026, Ini Faktor Penentunya

Dari sisi global, pasar merespons positif pernyataan Presiden AS, Donald Trump yang mengisyaratkan adanya kemajuan dalam pembahasan dengan Iran dan peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.

"Pasar merespons positif pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan adanya kemajuan dalam diskusi dengan Iran, dengan peluang tercapainya kesepakatan damai di Eropa akhir pekan ini," ujar Sutopo kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).

Menurut Sutopo, perkembangan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global, khususnya di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini mendorong pelaku pasar mengurangi kepemilikan aset safe haven seperti dolar AS dan kembali meningkatkan eksposur pada aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang.

Dari dalam negeri, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5,50% turut meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik di mata investor asing. Selain itu, aliran dana asing yang masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) turut memperkuat pasokan valuta asing di pasar.

Baca Juga: Rupiah Spot Menguat 0,4% ke Rp 17.917 per Dolar AS pada Jumat (12/6/2026)

Kepercayaan investor juga mendapat dorongan dari proyeksi Bank Dunia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5% pada 2026. Prospek tersebut memperkuat pandangan bahwa fundamental ekonomi domestik masih cukup solid di tengah ketidakpastian global.

Sutopo menilai kombinasi intervensi Bank Indonesia, meningkatnya daya tarik instrumen rupiah, dan meredanya ketegangan geopolitik berhasil membantu rupiah keluar dari tren pelemahan yang berlangsung selama sebelas pekan berturut-turut.

Meskipun, pergerakan rupiah ke depan masih akan dipengaruhi perkembangan geopolitik global, tetapi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta keberlanjutan aliran modal asing ke pasar domestik.

Jika sentimen risk-on global tetap terjaga dan arus dana asing masih masuk ke instrumen rupiah, penguatan mata uang Garuda berpeluang berlanjut pada pekan depan. Sebaliknya, meningkatnya ketidakpastian geopolitik atau kembali menguatnya dolar AS dapat membatasi ruang apresiasi rupiah.

Sutopo memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak pada rentang Rp 17.650 - Rp 18.050 per dolar AS pada pekan depan.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.860 Per Dolar AS Hari Ini (12/6), Sepekan Naik 0,98%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News