Rupiah Menguat ke Rp 17.500, Ekonom: Tren Bullish Belum Berkelanjutan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah berpotensi bertahan di level Rp 17.500 per dolar AS dalam beberapa waktu ke depan. Namun, ekonom berpendapat penguatan tersebut dinilai belum mencerminkan perbaikan fundamental rupiah secara struktural sehingga berpotensi kembali melemah dalam beberapa bulan mendatang.

Melansir Bloomberg, nilai tukar rupiah menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan kemarin. Rabu (9/9), kurs rupiah di pasar spot menguat Rp 121 atau 0,69% secara harian menjadi Rp 17.511 per dolar AS. Ini adalah penguatan rupiah paling tajam sejak 11 Agustus 2026 lalu. 

Rupiah juga telah menguat dalam lima hari perdagangan beruntun. Rupiah mencapai posisi terkuat rupiah sejak 14 Mei 2026 atau hampir empat bulan terakhir.


Baca Juga: IHSG Turun 0,14% ke 6.668 Sesi I Kamis (10/9), Saham INDY hingga AKRA Jadi Beban

Meski demikian, pada perdagangan siang ini Kamis (10/9) pukul 12.00 WIB, rupiah berada di level Rp 17.534 atau melemah lagi 0,13% secara harian.

Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan, penguatan rupiah beberapa waktu terakhir ini salah satunya ditopang oleh pelemahan dolar AS.  

"Rencana Pemerintah AS melakukan buyback atas US Treasury akan menurunkan yield US Treasury, ini akan menekan nilai tukar USD terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah," ujar Wijayanto kepada Kontan, Rabu malam (9/9/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut tercermin dari pelemahan US Dollar Index (DXY) sejak Agustus 2026. Saat ini indeks dolar AS (DXY) yang saat ini di level 98,7 atau melemah 0,16% sepekan terakhir. Pelemahan dolar AS kemudian turut memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat terhadap greenback.

Selain faktor eksternal, penguatan rupiah juga ditopang oleh kebijakan Bank Indonesia (BI) di pasar valuta asing. 

Wijayanto menyebut, BI melakukan intervensi pasar yang cukup masif serta memfasilitasi kontrak swap rupiah/valas dengan diskon biaya hingga 15%, termasuk untuk kebutuhan foreign direct investment (FDI).

Langkah tersebut dinilai turut meningkatkan kepercayaan investor asing untuk masuk ke Indonesia sehingga memberikan dukungan terhadap nilai tukar rupiah.

"Ini membantu meningkatkan confidence asing untuk masuk ke Indonesia," jelas Wijayanto.

Meski demikian, Wijayanto menilai penguatan rupiah tersebut belum dapat disebut sebagai tren bullish yang berkelanjutan. 

Pasalnya, penguatan saat ini lebih banyak ditopang oleh faktor eksternal dan kebijakan stabilisasi pasar, bukan perubahan fundamental maupun struktural.

"Rupiah berpotensi menguat dan bertahan di level Rp 17.500 per dolar AS dalam beberapa waktu ke depan, tetapi penguatan ini bukan sesuatu yang sustainable, bukan karena hal-hal yang sifatnya fundamental dan struktural," katanya.

Baca Juga: Sumber Global Energy (SGER) Siapkan Mesin Pertumbuhan Baru di Luar Bisnis Batubara

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News