Rupiah Menguat ke Rp17.788 Jelang Keputusan Suku Bunga BI



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rupiah menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu (23/9/2026), di tengah pergerakan mata uang Asia yang cenderung terbatas karena pasar masih mencermati ketidakpastian hasil perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengacu data Reuters, rupiah menguat sekitar 0,4% ke level Rp17.788 per dolar AS. Penguatan ini terjadi menjelang keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan pada hari yang sama.

Pasar secara luas memperkirakan BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Ruang untuk menahan suku bunga terbuka setelah rupiah relatif stabil dan inflasi berada di sekitar sasaran.


Namun, sejumlah analis masih memperkirakan BI kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir tahun. 

"Pasar masih menunggu sinyal yang lebih jelas mengenai apakah situasi AS-Iran akan menghasilkan deeskalasi yang bertahan lama," kata Inki Cho, strategist pasar keuangan di platform perdagangan Exness.

Sentimen terhadap mata uang Asia masih dibayangi potensi penguatan dolar AS apabila ketegangan AS-Iran kembali meningkat. Indeks mata uang negara berkembang MSCI tercatat nyaris datar.

Di sisi lain, penurunan harga minyak secara bertahap sejak Selasa memberikan sedikit ruang bagi mata uang negara-negara pengimpor minyak, termasuk India dan Filipina.

Harga minyak melemah setelah muncul kabar bahwa Arab Saudi kembali mengoperasikan East-West Pipeline.

Won Korea Selatan menjadi salah satu mata uang Asia yang mencatat penguatan paling menonjol. Won naik hingga sekitar 0,5% dan memperpanjang reli untuk hari ketiga.

Sepanjang tahun ini, won telah menguat lebih dari 6%, didukung surplus transaksi berjalan yang melebar serta aliran dana ke sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI).

"Investor AI dan permintaan global yang kuat terhadap chip memori serta semikonduktor turut menopang penerimaan ekspor Korea Selatan," tulis Reuters.

Di pasar saham, indeks saham Asia berkembang MSCI naik sekitar 0,4%. Bursa Taiwan menguat 0,8%, sedangkan Korea Selatan naik sekitar 0,4%.

Penguatan saham teknologi kembali didorong optimisme terhadap permintaan chip dan perkembangan AI. Saham TSMC naik 1,2%, sementara Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing menguat 2,5% dan 0,6%.

Di kawasan Asia Tenggara, baht Thailand melemah sekitar 0,3% setelah pemerintah menyetujui anggaran US$1,29 miliar untuk memperpanjang program subsidi konsumen selama dua bulan.

Kebijakan tersebut ditujukan untuk meredam tekanan biaya hidup di tengah tingginya utang rumah tangga dan kenaikan biaya energi.

Pergerakan pasar masih akan sangat dipengaruhi perkembangan diplomasi AS-Iran.

Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan dapat segera tercapai melalui upaya diplomatik di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tetapi pada saat yang sama kembali mengeluarkan ancaman keras jika kesepakatan untuk mengakhiri perang tidak tercapai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News