Rupiah Menguat Pada Agustus tapi Tertekan Sejak Awal Tahun, Cek Valas Pilihan Berikut



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap mayoritas mata uang utama sepanjang bulan Agustus 2026. Kendati demikian, posisi mata uang Garuda secara akumulatif sejak awal tahun (Year-to-Date/YtD) masih membukukan pelemahan di tengah kombinasi sentimen global dan fundamental domestik.

Mengutip data Bloomberg per akhir Agustus 2026, rupiah menguat terhadap tujuh dari delapan mata uang utama secara bulanan (Month-on-Month/MoM).

Apresiasi rupiah tertinggi terjadi terhadap franc Swiss (CHF/IDR) yang terkoreksi 5,89% MoM ke level Rp 21.004,85, diikuti dolar AS (USD/IDR) yang merosot 1,86% MoM ke Rp 17.722.


Baca Juga: Rupiah Jisdor Menguat 0,11% ke Rp 17.727 per Dolar AS pada Selasa (1/9/2026)

Selanjutnya, yen Jepang (JPY/IDR) turun 1,39% MoM menjadi Rp 110,94, poundsterling Inggris (GBP/IDR) terdepresiasi 0,97% MoM ke Rp 23.995,59, dan euro (EUR/IDR) melemah 0,94% MoM ke Rp 20.560,17.

Dolar Singapura (SGD/IDR) dan dolar Kanada (CAD/IDR) turut terkikis masing-masing sebesar 0,89% MoM ke Rp 13.928,29 dan 0,81% MoM ke Rp 12.750,64. Hanya dolar Australia (AUD/IDR) yang masih menguat tipis terhadap rupiah sebesar 0,09% MoM ke Rp 12.685,40.

Meski begitu, secara akumulatif YtD dibanding posisi akhir Desember 2025, rupiah masih tertekan terhadap hampir seluruh valas tersebut.

Tekanan terbesar dialami rupiah terhadap AUD/IDR yang melesat 12,83% YtD, SGD/IDR yang naik 7,39% YtD, GBP/IDR menguat 7,13% YtD, dan USD/IDR melambung 6,25% YtD.

Begitu pula EUR/IDR (+5,08% YtD), CAD/IDR (+4,78% YtD), serta JPY/IDR (+4,15% YtD) yang masih membukukan penguatan atas rupiah, sementara CHF/IDR relatif stabil dengan apresiasi rupiah tipis 0,01% YtD.

Analis Mata Uang sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menjelaskan, penguatan rupiah pada Agustus ditopang oleh pelemahan menyeluruh indeks dolar AS (DXY) akibat intervensi likuiditas buyback US Treasury dan melandainya imbal hasil obligasi AS.

Di samping itu, efektivitas instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) serta aksi profit taking pasar pada valas utama memberi ruang penguatan bagi mata uang Garuda.

Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Melemah 0,12% ke Rp 17.744 per Dolar AS pada Selasa (1/9/2026)

Namun, secara YtD rupiah terbebani oleh tingginya ekspektasi suku bunga The Fed, tingginya defisit transaksi berjalan, kebutuhan likuiditas valas musiman korporasi, dan lonjakan harga energi global.

Wahyu juga menyoroti pidato bernada ketat dari Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole yang memicu lonjakan imbal hasil obligasi AS tenor dua tahun.

"Sinyal hawkish yang sangat kuat dari pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole, yang dinilai sebagai salah satu komunikasi paling ketat dalam dua dekade, memicu lonjakan yield US Treasury tenor dua tahun dan mengerek kembali Indeks Dolar AS (DXY)," kata Wahyu kepada Kontan, Senin (1/9/2026).

Sementara itu, Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan menilai penguatan rupiah sepanjang Agustus turut didorong oleh masuknya aliran modal asing (capital inflow) serta sempat meredanya harga minyak dunia akibat ekspektasi perdamaian di Timur Tengah.

Akan tetapi untuk periode YtD, eskalasi konflik militer AS–Iran yang mengganggu jalur Selat Hormuz mengangkat kembali posisi USD sebagai aset aman (safe haven) sekaligus mata uang utama transaksi energi global.

"Kenaikan minyak menjadi penting karena juga memperkuat posisi USD sebagai mata uang utama dalam transaksi energi global atau petrodollar," ungkap Brahmantya.

Ia menambahkan bahwa bagi Indonesia yang berstatus net importir minyak, melambungnya harga komoditas energi tersebut memperbesar kebutuhan valas untuk impor serta meningkatkan risiko inflasi domestik.

Baca Juga: Analis Ungkap Prospek Saham DSNG, Intip Target Harganya

Mempertimbangkan dinamika pergerakan kurs tersebut, Wahyu menyarankan investor mencermati mata uang berbasis komoditas seperti dolar Australia (AUD/IDR) untuk potensi pertumbuhan jangka panjang karena didukung oleh kuatnya harga komoditas global seperti emas dan batubara.

Selain itu, yen Jepang (JPY/IDR) dinilai sangat prospektif sebagai instrumen defensif setelah adanya intervensi terkoordinasi BoJ dan AS. Ia merekomendasikan strategi buy on dips secara bertahap pada mata uang komoditas sembari mempertahankan porsi aset defensif guna memitigasi ketidakpastian moneter global.

Di sisi lain, Brahmantya lebih merekomendasikan yuan Tiongkok (CNY) dan dolar Singapura (SGD) bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi portofolio. CNY dinilai menarik karena penguatannya relatif terkontrol oleh kebijakan PBoC, sedangkan SGD menawarkan fundamental yang stabil dan defensif.

Bagi investor dalam negeri, ia menyarankan agar tidak mengejar USD secara agresif saat terjadi lonjakan, melainkan menjadikannya sebagai instrumen lindung nilai ketika risiko geopolitik global kembali tereskalasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News