KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah menguat pada awal perdagangan awal pekan ini di tengah masih tingginya ketidakpastian global. Rupiah dibuka pada level Rp 17.865 per dolar Amerika Serikat (AS), atau menguat 0,32% dibandingkan penutupan perdagangan Jumat pekan lalu di Rp 17.922 per dolar AS. Pada pukul 11.25 WIB, rupiah terpantau menguat sekitar 69 poin atau 0,39% secara harian ke level Rp 17.840 per dolar Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Jaya Real Property (JRPT) Bubarkan dan Likuidasi Anak Usaha Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, berpandangan penguatan rupiah kali ini lebih banyak ditopang sentimen domestik ketimbang faktor eksternal. Menurut Ibrahim, faktor pertama berasal dari keputusan pemerintah memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG). Anggaran program tersebut disebut turun dari sekitar Rp 335 triliun menjadi Rp 268 triliun. Langkah ini dinilai sebagai upaya pemerintah memperkuat kondisi fiskal dan menjaga defisit anggaran tetap terkendali. "Artinya ada pemotongan kurang lebih sebesar Rp 67 triliun, tujuannya untuk memperkuat kondisi keuangan negara. Pemangkasan ini tujuannya adalah untuk mengurangi biaya anggaran yang cukup besar di APBN," ujar Ibrahim, Senin (29/6/2026). Faktor kedua adalah rencana Presiden Prabowo Subianto melakukan restrukturisasi badan usaha milik negara (BUMN). Ibrahim mengatakan pemerintah berencana merampingkan jumlah perusahaan BUMN secara signifikan, dari lebih 1.000 entitas menjadi sekitar 200 hingga 300 perusahaan. Ini guna meningkatkan efisiensi dan mengurangi beban anggaran negara.
Baca Juga: Rupiah Spot Menguat 0,27% ke Rp 17.873 per Dolar AS pada Senin (29/6) Pagi Sementara itu, faktor ketiga berasal dari sikap pemerintah yang menolak bantuan pembiayaan dari Dana Moneter Internasional (IMF). Ibrahim menilai keputusan tersebut mencerminkan keyakinan pemerintah terhadap kekuatan fundamental ekonomi Indonesia. Ia menambahkan, pemerintah menilai kondisi ekonomi nasional masih cukup kuat sehingga tidak memerlukan dukungan pembiayaan dari IMF, meski risiko eksternal seperti potensi gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz masih membayangi. "Bahwa pemerintah menolak IMF ini pun juga merupakan sentimen positif bagi rupiah yang menguat cukup tajam saat ini. Sehingga tiga faktor inilah yang membuat rupiah menguat walaupun IHSG pada saat pembukaan dibuka melemah," kata Ibrahim. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News