KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia sepanjang Juni 2026. Namun, penguatan tersebut dinilai lebih mencerminkan pelemahan mata uang lain terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan menguatnya fundamental rupiah. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat terhadap dolar Australia (AUD) sebesar 3,66% secara bulanan atau
month on month (MoM). Rupiah juga menguat terhadap franc Swiss (CHF) 2,89% MoM, dolar Kanada (CAD) 2,87% MoM, euro (EUR) 1,91% MoM, yen Jepang (JPY) 1,74% MoM, poundsterling (GBP) 1,20% MoM, serta dolar Singapura (SGD) 1,20% MoM. Sebaliknya, terhadap dolar AS, rupiah masih melemah tipis sebesar 0,15% MoM. Bahkan, pada akhir perdagangan Rabu (1/7), rupiah ditutup melemah 0,25% dari hari sebelumnya menjadi Rp 17.952 per dolar AS.
Baca Juga: Bitcoin Bertahan di Support Kunci, Mampukah Melaju hingga US$72.000? Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai, pergerakan rupiah sepanjang Juni lebih mencerminkan dominasi dolar AS yang tetap kuat setelah bank sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga dengan sikap kebijakan yang masih hawkish. Akibatnya, hampir seluruh mata uang mengalami tekanan terhadap dolar AS, termasuk rupiah. Namun, pelemahan mata uang seperti euro, poundsterling, yen, dolar Australia, dolar Kanada, franc Swiss, dan dolar Singapura terhadap dolar AS lebih dalam dibandingkan rupiah. Hal tersebut membuat rupiah tampak menguat ketika dibandingkan dengan mata uang-mata uang tersebut. "Jadi yang terjadi adalah efek pergerakan nilai tukar silang, bukan karena rupiah sedang mengalami penguatan yang sangat besar," ujar Yusuf kepada Kontan, Rabu (1/7). Menurut Yusuf, penguatan terbesar rupiah terhadap dolar Australia dan dolar Kanada dipengaruhi karakter kedua mata uang tersebut yang sensitif terhadap pergerakan harga komoditas. Penurunan harga minyak dan sejumlah komoditas selama Juni, seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah berhasil mengurangi dukungan terhadap kedua mata uang tersebut. Sementara itu, franc Swiss yang selama ini dikenal sebagai aset
safe haven juga mengalami pelemahan. Membaiknya sentimen risiko global membuat permintaan terhadap franc Swiss berkurang sehingga nilainya ikut turun. Yusuf menilai pergerakan rupiah sepanjang Juni dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Faktor global menjadi penentu arah pergerakan pasar, sedangkan faktor domestik menentukan daya tahan rupiah menghadapi tekanan eksternal. Di dalam negeri, kata dia, Bank Indonesia merespons tekanan tersebut dengan menaikkan suku bunga sehingga meningkatkan daya tarik aset berdenominasi rupiah. Langkah tersebut mendorong masuknya arus modal ke pasar obligasi sekaligus membantu menjaga stabilitas nilai tukar. "Tanpa respons kebijakan yang cukup agresif, pelemahan rupiah terhadap dolar kemungkinan akan lebih dalam," kata Yusuf. Meski demikian, Yusuf mengingatkan ketahanan rupiah saat ini masih ditopang arus modal jangka pendek yang mengejar imbal hasil tinggi. Di sisi lain, tekanan inflasi mulai meningkat, surplus neraca perdagangan menyempit, serta masih terdapat kekhawatiran investor terhadap sejumlah isu tata kelola. "Penguatan rupiah kali ini lebih bersifat taktis daripada mencerminkan perbaikan fundamental ekonomi yang benar-benar kuat," ujarnya. Dari sisi pelaku usaha, Yusuf menilai dampaknya berbeda-beda. Importir yang membeli bahan baku dari Eropa, Jepang, Australia, maupun Kanada diuntungkan karena biaya impor dalam rupiah menjadi lebih rendah. Sebaliknya, eksportir ke negara-negara tersebut menghadapi tantangan lantaran harga produk Indonesia menjadi relatif lebih mahal. Namun, ia menilai dampaknya terhadap perdagangan secara keseluruhan masih terbatas mengingat mayoritas transaksi ekspor-impor Indonesia tetap menggunakan dolar AS, sementara rupiah justru masih melemah terhadap mata uang tersebut. Karena itu, Yusuf menyarankan pelaku usaha tetap melakukan lindung nilai (
hedging) dan tidak menganggap kondisi penguatan rupiah terhadap mata uang lain akan berlangsung lama.
Ke depan, stabilitas rupiah diperkirakan masih bergantung pada arah kebijakan The Fed, perkembangan inflasi domestik, pergerakan harga minyak dan komoditas, serta kepercayaan investor terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. "Selama faktor-faktor tersebut belum menunjukkan perbaikan yang konsisten, ketahanan rupiah masih akan bergantung pada kemampuan menjaga arus modal dan stabilitas pasar keuangan. Kinerja rupiah sepanjang Juni memang layak diapresiasi, tetapi masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa fondasinya sudah benar-benar kuat," kata Yusuf.
Baca Juga: Harga Emas Spot Turun 12,07% pada Juni, Begini Prospeknya pada Semester II-2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News