Rupiah Menguat Tipis ke Rp 17.139, Pasar Cermati Negosiasi AS-Iran dan Defisit APBN



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada akhir perdagangan Kamis (16/4/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat tipis 0,02% ke level Rp 17.139 per dolar AS. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) justru melemah tipis 1 poin ke Rp 17.142 per dolar AS.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah dipengaruhi sentimen eksternal, terutama perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Gedung Putih menyampaikan optimisme terkait potensi tercapainya kesepakatan untuk meredakan konflik dengan Iran, meski tetap membuka opsi peningkatan tekanan ekonomi.


Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp 17.139 Per Dolar AS Hari Ini (16/4), Asia Perkasa

Selain itu, terdapat sinyal deeskalasi, termasuk kemungkinan kelonggaran jalur pelayaran di Selat Hormuz serta rencana lanjutan negosiasi antara AS dan Iran dalam waktu dekat dengan mediasi Pakistan.

Namun demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa faktor domestik masih menjadi perhatian pelaku pasar. Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar US$ 437,9 miliar, meningkat dari US$ 434,9 miliar pada bulan sebelumnya.

Secara tahunan, ULN tumbuh 2,5% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Januari sebesar 1,7% (yoy).

Kenaikan ULN terutama berasal dari sektor publik, khususnya bank sentral, seiring aliran masuk modal asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, ULN swasta tercatat menurun.

Adapun ULN pemerintah mencapai US$ 215,9 miliar pada Februari 2026 atau tumbuh 5,5% dibandingkan tahun sebelumnya (yoy). 

Di sisi fiskal, tekanan juga meningkat. Per Maret 2026, defisit anggaran tercatat 0,93% terhadap PDB atau setara Rp 240 triliun, naik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 0,4% atau Rp 100 triliun.

Baca Juga: Bitcoin Jadi Alternatif Lindung Nilai, Siap Reli ke US$ 80.000

Dengan asumsi harga minyak berpotensi bertahan di kisaran US$ 100 per barel, jauh di atas asumsi APBN sebesar US$ 70 per barel, pemerintah dinilai berpeluang merevisi APBN pada Agustus mendatang. Risiko penyesuaian harga bahan bakar bersubsidi pun terbuka, yang berpotensi menekan daya beli dan memicu tekanan inflasi.

Untuk perdagangan Jumat (17/4/2026), Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.130–Rp 17.170 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News