Rupiah Menguat Tipis ke Rp 18.091 per Dolar AS Saat Pasar Respons Positif Rating S&P



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju nilai tukar rupiah spot terpantau masih tertahan di level Rp 18.091 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (14/7/2026), menguat tipis 0,10% dari sehari sebelumnya. 

Sementara itu, kurs rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, ada di level Rp 18.099 per dolar AS pada Selasa (14/7/2026), menguat 0,18% dari sehari sebelumnya.

Rupiah mendapat sedikit angin segar dari afirmasi peringkat kredit stabil dari S&P serta lompatan cadangan devisa hingga US$ 145,6 miliar.


Baca Juga: Sumber Global (SGER) Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Rp 92 Miliar

Meski begitu, otot rupiah belum terlalu kuat. Pasalnya, saat ini dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat, yang diindikasikan dari indeks dolar yang terus naik.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menjelaskan bahwa penguatan indeks dolar AS (DXY) kian tak terbendung akibat kembali memanasnya konflik geopolitik AS-Iran.

"Pasar juga mulai pricing in kemungkinan satu kali kenaikan Fed Rate tahun ini, yang memperkuat dolar," kata David kepada Kontan, Selasa (14/7/2026).

Menurut David, level Rp 18.000 berpotensi menjadi level pijakan (base) baru bagi rupiah karena secara fundamental nilainya kini telah bergeser ke kisaran tersebut.

Tekanan domestik pun turut memicu ketidakpastian seiring berlanjutnya aksi capital outflow serta pembengkakan beban pembiayaan APBN.

Baca Juga: Ekspansi ke Sumatera Selatan, CGAS Bangun CNG Station di Simpang Y, Ogan Ilir

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman memproyeksikan rupiah hingga akhir tahun 2026 akan bergerak volatil pada rentang Rp 17.600 hingga Rp 18.300 per dolar AS.

"Penguatan bergantung pada meredanya tensi geopolitik, turunnya harga minyak, membaiknya surplus perdagangan, dan masuknya kembali modal asing," ujar Rizal kepada Kontan, Selasa (14/7/2026).

Di tengah gejolak kurs ini, pelaku pasar uang disarankan untuk menempuh langkah taktis dan defensif dengan mencermati mata uang alternatif untuk melindungi nilai.

Pasangan USD/IDR tetap menjadi pilihan utama yang likuid, namun investor dapat mendiversifikasikan portofolionya secara bertahap ke mata uang safe haven seperti Swiss Franc (CHF) atau Dolar Singapura (SGD).

Untuk menahan depresiasi yang lebih dalam, otoritas moneter dan pemerintah diminta segera bersinergi merumuskan solusi makro yang komprehensif.

Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengingatkan bahwa kebijakan intervensi pasar oleh Bank Indonesia tidak akan efektif tanpa adanya perbaikan fundamental.

"Jika pemerintah hanya mengandalkan intervensi cadangan devisa tanpa memperbaiki defisit neraca perdagangan dan disiplin fiskal, maka intervensi tersebut hanya akan menjadi obat penenang," pungkas Rahma.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News