KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah cenderung stagnan dan tidak banyak bergerak dalam kurun waktu sepekan terakhir. Mengutip data
Bloomberg, rupiah pasar spot ditutup di level Rp 17.693 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (28/8/2026), menguat tipis 0,01% dari posisi Jumat (21/8/2026) yang berada di level Rp 17.695 per dolar AS. Kondisi serupa tercermin pada kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Kurs JISDOR berada di level Rp 17.703 per dolar AS pada Jumat (28/8/2026), mencatatkan penguatan tipis 0,01% dibandingkan posisi Jumat (21/8/2026) yang bertengger di Rp 17.705 per dolar AS.
Baca Juga: Cadangan Minyak AS Ada di Level Terendah 4 Dekade, Bagaimana Dampaknya ke Harga? Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menjelaskan, pergerakan rupiah sepanjang pekan ini mencerminkan dinamika tarik-menarik antara pelemahan dolar global dan meningkatnya premi risiko Indonesia. Pada awal pekan, rupiah relatif stabil di kisaran Rp 17.700 per dolar AS seiring dengan dolar global yang tertahan. Tekanan sempat meningkat di tengah pekan yang tercermin dari kurs Jisdor, melemah hingga Rp 17.762 pada Kamis (27/8), akibat kenaikan indeks dolar AS (DXY) ke level 99,2 dan yield US Treasury 10 tahun yang mendekati 4,7%. Namun, rupiah berhasil membalas tekanan dan naik tipis di akhir pekan. Di sisi lain, faktor fundamental dari dalam negeri bertindak sebagai penopang utama. Syafruddin mencatat BI-Rate di level 5,75%, cadangan devisa sebesar US$ 145,3 miliar, dan arus modal asing yang masih positif menjadi penyangga rupiah. Meski demikian, pelebaran defisit transaksi berjalan (
current account deficit/CAD) menjadi 3,3% PDB serta harga minyak yang tinggi tetap meningkatkan sensitivitas pasar terhadap aksi
risk-off. Baca Juga: Ekspor Batubara Belum Mampu Tutupi Beban Impor Minyak Indonesia Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman menambahkan, kuatnya tekanan faktor eksternal seperti
yield US Treasury yang bertahan tinggi memang membatasi ruang penguatan rupiah. Selain isu global, terbatasnya pergerakan rupiah di kisaran Rp 17.700-an per dolar AS juga dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan suhu politik domestik yang menaikkan premi risiko. “Dalam jangka pendek, rupiah masih sangat sensitif terhadap
risk appetite global, sementara fundamental domestik lebih berfungsi sebagai penahan agar depresiasi tidak berlangsung terlalu dalam,” ujar Rizal kepada Kontan, Jumat (28/8/2026). Memasuki pekan depan (31 Agustus–4 September 2026), kedua ekonom memperkirakan rupiah masih akan bergerak
sideways dengan kecenderungan melemah terbatas di rentang Rp 17.650 hingga Rp 17.950 per dolar AS.
Baca Juga: Dalam Sepekan, IHSG Bergerak Sideway Syafruddin memproyeksikan, jika sinyal kebijakan The Fed mereda dan
capital inflow berlanjut, rupiah berpeluang menguji rentang penguatan Rp 17.550–Rp 17.650 per dolar AS. Namun sebaliknya, jika
yield Treasury dan harga minyak melonjak, rupiah berisiko melemah menembus Rp 17.950 hingga menguji Rp 18.050 per dolar AS.
Sementara itu, Rizal menekankan bahwa proyeksi rupiah berada pada rentang Rp 17.650–Rp 17.950 per dolar AS, dengan level mendekati Rp 18.000 per dolar AS sebagai batas psikologis utama. Bank Indonesia diperkirakan akan menahan tekanan tersebut melalui intervensi pasar spot, DNDF, dan instrumen moneter agar pergerakan rupiah tidak mengalami depresiasi tajam. “Artinya, volatilitas masih tinggi, tetapi belum menunjukkan tekanan fundamental yang mengarah pada pelemahan tajam,” tutur Rizal. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News