Rupiah Menguat Usai BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5,75%, Disokong Intervensi BI



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah menguat setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026.

Untuk diketahui, pada RDG BI perdana yang dipimpin oleh Gubernur BI Destry Damayanti ini memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) tetap di level 5,75%.

Di tengah kondisi itu, melansir Bloomberg, rupiah spot ditutup pada level Rp 17.818 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Rabu (23/9/2026), menguat 0,37% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.884 per dolar AS.


Pergerakan rupiah di Jisdor BI sejalan dengan rupiah spot. Di pasar spot, rupiah ditutup pada level Rp 17.803 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Rabu, menguat 0,45% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.883 per dolar AS.

Baca Juga: BI Pertahankan Suku Bunga 5,75%, Begini Prospek Reksadana Pendapatan Tetap

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah setelah keputusan RDG BI tersebut kemungkinan lebih banyak dipengaruhi oleh intervensi BI dan aksi pelepasan posisi dolar AS (unwinding) di pasar.

Menurut dia, keputusan BI menahan suku bunga acuan sudah sesuai dengan ekspektasi pasar sehingga tidak menimbulkan kejutan.

“Penguatan ini kemungkinan lebih dipengaruhi intervensi BI dan unwinding posisi dolar setelah tidak ada kejutan dalam rapat tersebut, buy the rumor - sell the fact,” ujar Lukman kepada Kontan, Rabu (23/9/2026).

Meski demikian, Lukman berpendapat penguatan rupiah pasca RDG BI berpotensi tidak bertahan lama. Pasalnya, indeks dolar AS masih melanjutkan kenaikan dan telah mencapai level tertinggi baru dalam hampir dua bulan. Saat ini indeks dolar AS sudah di level tinggi, yakni 100,8.

Di tengah minimnya data ekonomi penting pada pekan ini, Lukman bilang perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada perkembangan geopolitik, khususnya hasil perundingan Amerika Serikat (AS)-Iran serta pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

Baca Juga: United Tractors (UNTR) Lanjut Buyback Saham hingga Rp 2 Triliun

“Rupiah berpotensi berbalik melemah mengingat indeks dolar AS masih terus menanjak dan mencapai level tertinggi baru dalam hampir dua bulan,” jelas Lukman.

Untuk perdagangan Kamis (24/9), Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 17.750-Rp 17.850 per dolar AS.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News