Rupiah Menguat, Yield SUN 10 Tahun Diproyeksi ke Kisaran 7,30%-7,45%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjelang pengumuman keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate), nilai tukar rupiah mencatatkan penguatan berkat dukungan pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dan harga minyak dunia.

Di tengah momentum positif tersebut, pasar obligasi dalam negeri menunjukkan dinamika yang beragam melalui kenaikan imbal hasil (yield) di pasar sekunder dan koreksi permintaan pada lelang Sukuk.

Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas Ridwan Adi Gunawan menjelaskan, membaiknya kondisi pasar saat ini memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menahan suku bunga acuannya, meskipun gejolak eksternal tetap membuat risiko pengetatan lanjutan pada kuartal IV 2026 masih terbuka.


Baca Juga: Beban Pokok Membengkak, PP Presisi (PPRE) Cetak Rugi hingga September 2026

Sebagai katalis utama, nilai tukar rupiah terapresiasi sebesar 0,31% ke level Rp 17.987 per dolar AS menjelang keputusan BI Rate hari ini.

Sentimen ini sejalan dengan tren global di mana yield obligasi pemerintah negara maju secara umum mengalami penurunan, dipimpin oleh German Bunds yang yield tenor 10 tahunnya turun 5,5 basis poin (bps) menjadi 3,40%.

Meski kondisi global cenderung melonggar, pergerakan di pasar domestik mencatatkan tren yang berbeda.

Pada perdagangan di pasar sekunder, yield Surat Utang Negara (SUN) justru naik 1 hingga 4 bps di seluruh tenor, dengan yield tenor 5 tahun dan 10 tahun masing-masing ditutup pada level 7,20% dan 7,42%.

Pelemahan antusiasme juga terlihat pada lelang Sukuk di hari Selasa, di mana total penawaran merosot 30,2% menjadi Rp 22,76 triliun dibandingkan lelang sebelumnya yang mencapai Rp 32,61 triliun.

Penurunan ini sebagian besar dipicu oleh melemahnya permintaan pada segmen Surat Berharga Syariah Negara (PBS).

Sebaliknya, instrumen bertenor pendek (SPN) justru mendominasi jalannya lelang dengan menarik penawaran gabungan sebesar Rp 14,60 triliun, atau mewakili 64,1% dari total permintaan keseluruhan.

Baca Juga: Harga Timah Global Ketat, Simak Rekomendasi Saham TINS dari Analis

"Mengingat perkembangan terkini di pasar global dan domestik, kami memperkirakan imbal hasil Indo-GB tenor 10 tahun akan diperdagangkan di kisaran 7,30-7,45% untuk hari ini," ungkap Ridwan dalam risetnya, Rabu (21/10/2026).

Sebagai panduan navigasi investasi di tengah proyeksi pasar saat ini, pelaku pasar dapat melirik sejumlah seri obligasi yang dinilai potensial.

Ridwan merekomendasikan lima seri obligasi pemerintah Indonesia (Indo-GB) yang atraktif untuk dijadikan pilihan trading pada hari ini, yakni seri FR0090, PBS030, FR0087, FR0110, dan FR0100.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News