KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi di kisaran Rp 17.700 per dolar AS setelah sejumlah tekanan eksternal mereda. Namun, penguatan rupiah belum cukup kuat untuk menandai perubahan tren. Melansir data Bloomberg, rupiah spot ditutup menguat 0,29% dibandingkan hari sebelumnya ke level Rp 17.693 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Jumat (28/8/2026).
Sejalan, rupiah pada kurs JISDOR juga ditutup mengalami penguatan 0,33% secara harian menjadi Rp 17.703 per dolar AS. Baca Juga: Risiko Hormuz Mereda, Harga Minyak Berpotensi Kembali Terkoreksi Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengatakan rupiah yang bertahan di kisaran Rp 17.700 per dolar AS beberapa waktu terakhir menunjukkan stabilisasi, tetapi belum cukup untuk disebut memasuki tren apresiasi yang kuat. Ia menjelaskan, tekanan pada rupiah sebelumnya datang dari dolar global, yield UST yang tinggi, perang di Timur Tengah, dan membesarnya defisit transaksi berjalan menjadi 3,3% PDB pada triwulan II. Kini sebagian tekanan mereda karena arus portofolio kembali masuk, BI mempertahankan BI-Rate 5,75%, dan volatilitas global sedikit turun. Sentimen Destry Damayanti dapat membantu jika pasar melihat kontinuitas kebijakan, independensi, komunikasi yang konsisten, serta komitmen menjaga rupiah tanpa mengorbankan kredibilitas inflasi. Seperti diketahui, Komisi XI pada 27 Agustus pada akhirnya menyetujui Destry sebagai calon Gubernur BI 2026-2031, sementara BI masih mencatatnya sebagai Pejabat Gubernur Sementara. “Karena itu, efek kepemimpinan lebih tepat dipandang sebagai premi kepercayaan bersyarat. Momentum penguatan akan menjadi lebih kuat hanya jika sentimen kelembagaan tersebut didukung perbaikan neraca eksternal dan penurunan yield global,” ujar Syafruddin kepada Kontan, Jumat (28/8/2026). Lebih dalam, Syafruddin pun bilang, penopang domestik rupiah saat ini bukan satu faktor, melainkan kombinasi kebijakan dan pembiayaan eksternal. Yang paling penting dalam jangka pendek ialah arus modal asing karena ia langsung memengaruhi permintaan rupiah di pasar keuangan. BI mencatat investasi portofolio triwulan III hingga 14 Agustus mencetak net inflow US$ 1,8 miliar, sementara BI-Rate 5,75% menjaga daya tarik imbal hasil. Cadangan devisa US$ 145,3 miliar, setara sekitar 5,5 bulan impor, memperkuat kapasitas stabilisasi. Surplus perdagangan masih membantu, tetapi kualitasnya melemah karena Januari-Juni hanya surplus US$3,58 miliar dan Juni bahkan defisit US$ 0,45 miliar. Defisit transaksi berjalan Indonesia (CAD) 3,3% PDB juga mengurangi kekuatan fundamental eksternal. Karena itu, kombinasi inflow, cadangan devisa, dan kredibilitas kebijakan BI saat ini lebih menentukan daripada surplus perdagangan sendiri. “Risiko muncul bila inflow berbalik ketika kebutuhan dolar untuk impor energi tetap tinggi. Rupiah akan lebih tahan jika
Foreign Direct Investment (FDI) meningkat dan surplus nonmigas kembali melebar,” jelasnya. Tetapi, Syafruddin menyebut peluang penguatan rupiah dari sisi eksternal cukup nyata jika dolar AS, memasuki fase pelemahan yang lebih persisten, tetapi jalurnya belum lurus. DXY masih sekitar 99,2 menjelang pidato Ketua Fed Kevin Warsh di Jackson Hole, sedangkan yield UST 10 tahun berada sekitar 4,67%. Jika data AS melemah, inflasi melandai, dan Fed membuka ruang kebijakan yang lebih longgar, selisih imbal hasil relatif dapat membaik bagi aset
emerging markets dan mendorong inflow ke Indonesia. Dicermatinya, risiko terbesar justru berasal dari kombinasi yang berlawanan, misal DXY naik, yield Treasury tetap tinggi akibat inflasi dan defisit fiskal AS, lalu geopolitik mendorong Brent kembali melonjak. “Bagi Indonesia, minyak mahal menambah kebutuhan dolar dan memperlebar defisit migas. Karena itu, katalis eksternal hanya akan bertahan bila pelemahan dolar disertai penurunan yield dan stabilisasi energi, bukan sekadar koreksi teknikal DXY,” ungkap Syafruddin.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Syafruddin memperkirakan rentang rupiah secara dasar berada sekitar Rp 17.400-Rp 17.900 per dolar AS, dengan titik tengah dekat Rp 17.650 per dolar AS untuk akhir 2026. Katanya, skenario ini mengasumsikan BI mempertahankan kebijakan
pro-stability, inflow asing tetap positif, CAD turun dari lonjakan 3,3% PDB, dan DXY tidak kembali ke tren penguatan tajam.
Baca Juga: Rupiah Berpeluang Lanjut Menguat, Didorong Pelemahan Indeks Dolar AS Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News