Rupiah Nyaris ke Rp 17.100 Per Dolar AS, BI Intervensi Pasar Valas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah di pasar spot dan forward non-deliverable. 

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti kepada Reuters mengatakan, intervensi ini dilakukan setelah rupiah mencapai rekor terendah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Menstabilkan rupiah tentu menjadi prioritas utama kami saat ini. Kami akan menggunakan setiap instrumen dan kebijakan yang kami miliki, kami akan mengerahkan semua upaya,” katanya kepada Reuters, Selasa (7/4/2026).


Destry menambahkan bahwa tekanan pada mata uang tersebut sebagian besar disebabkan oleh dinamika global, termasuk reaksi pasar terhadap perang AS-Israel di Iran. 

Baca Juga: Defisit APBN Melebar di Awal Tahun, Dampak Geopolitik Mulai Terasa

Rupiah melemah hingga 0,35% menjadi 17.090 per dolar AS pada Selasa pagi, menurut data LSEG. Rupiah juga telah jatuh lebih dari 2% terhadap dolar pada tahun 2026, yang sejalan dengan beberapa mata uang regional lainnya, menurut data tersebut.

Destry mengatakan, BI melakukan intervensi di pasar mata uang spot dan forward non-deliverable, dan siap membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder jika diperlukan. Otoritas juga akan berupaya meningkatkan arus masuk dengan meningkatkan daya tarik sertifikat berdenominasi rupiah yang dikenal sebagai SRBI.

Ia mengatakan pelemahan rupiah pasti akan berdampak negatif pada aktivitas ekonomi, meskipun harga komoditas utama yang lebih tinggi akan membantu mengimbangi dampak tersebut.

Baca Juga: Pemerintah Ambil Alih Cicilan Koperasi Desa, Percepatan atau Risiko Baru?

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 10.21 WIB, rupiah berada di level Rp 17.084 per dolar AS atau melemah 0,29% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.035 per dolar AS.

Sepanjang hari ini, rekor pelemahan rupiah berada di Rp 17.095 per dolar AS.

Sebenarnya pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia. Di mana, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ambles 0,29%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News