KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp 18.000 per dolar AS mulai menjadi perhatian dunia usaha. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi, terutama bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sarman Simanjorang mengatakan pelemahan rupiah memberikan tekanan tambahan bagi pelaku usaha yang belum sepenuhnya pulih dari tingginya berbagai biaya produksi. Menurutnya, pelemahan rupiah turut mengganggu psikologi pelaku usaha karena kenaikan nilai tukar akan meningkatkan biaya pembelian bahan baku dari luar negeri. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi membebani arus kas atau
cash flow perusahaan.
Baca Juga: Rupiah Mendekati Rp18.000, Biaya Produksi hingga Daya Beli Bisa Tertekan "Nilai tukar rupiah yang semakin melemah yang hampir menembus Rp18.000 tentu sangat mengganggu psikologi pelaku usaha, khususnya industri yang bahan bakunya masih tergantung pada bahan baku impor," tutur Sarman kepada Kontan, Rabu (30/9/2026). Ia mengatakan kenaikan biaya akibat pelemahan rupiah datang ketika dunia usaha masih menghadapi tekanan dari sejumlah komponen biaya lainnya, seperti harga gas, bahan bakar minyak (BBM), hingga biaya logistik. Dengan demikian, pelemahan rupiah dinilai menjadi tambahan beban bagi dunia usaha, terutama industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku dan komponen impor. Di sisi lain, ia juga mengungkapkan pelaku usaha menghadapi dilema untuk meneruskan kenaikan biaya produksi kepada konsumen melalui kenaikan harga jual. Sebab, daya beli masyarakat dinilai belum sepenuhnya pulih sehingga kenaikan harga berisiko menekan volume penjualan.
Baca Juga: Hati-Hati, Obral Insentif Pajak pada 2026 Berisiko Tekan APBN Menurutnya, kondisi tersebut menjadi seperti buah simalakama bagi dunia usaha. Jika harga produk dinaikkan, terdapat risiko target penjualan tidak tercapai. Sementara jika harga dipertahankan, margin keuntungan perusahaan akan semakin tertekan. Salah satu strategi yang dapat ditempuh pelaku usaha adalah melakukan efisiensi, termasuk dengan mengurangi sedikit ukuran produk tanpa menaikkan harga jual. "Strateginya bagi produk tertentu mengurangi sedikit ukurannya tanpa menaikkan harga. Pengusaha pasti mengalami margin yang semakin menipis, namun dengan penghematan yang dilakukan diharapkan pelaku usaha mampu bertahan di tengah berbagai tekanan yang dihadapi," jelasnya. Namun, strategi tersebut memiliki batas. Apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu yang panjang, pelaku usaha pada akhirnya berpotensi melakukan penyesuaian harga jual untuk menjaga keberlangsungan bisnis. Ia menilai pelemahan rupiah yang masih bersifat fluktuatif saat ini masih dapat disiasati oleh dunia usaha. Namun, jika tekanan berlangsung lebih lama dan rupiah kembali melemah, berbagai sektor industri berpotensi mulai meneruskan kenaikan biaya produksi ke harga jual. "Jika pelemahan ini berkepanjangan tidak tertutup kemungkinan pelaku usaha akan menyesuaikan dengan kenaikan harga jual, sekalipun risikonya target penjualan tidak tercapai," katanya.
Baca Juga: Subsidi Energi di 2027 Rp 261,5 Triliun, Ini Strategi Kementerian ESDM Jaga Kuota Lebih lanjut, sejumlah sektor industri juga dinilai akan lebih rentan terhadap pelemahan rupiah karena tingginya penggunaan bahan baku atau komponen impor. Sektor tersebut antara lain farmasi, sebagian industri makanan dan minuman, tekstil, plastik, otomotif, hingga elektronik. Tekanan perlu menjadi perhatian terutama untuk industri yang menghasilkan barang kebutuhan utama masyarakat. Sebab, kenaikan biaya produksi pada sektor tersebut berpotensi berdampak pada harga barang yang dikonsumsi masyarakat. "Yang perlu diwaspadai adalah produk yang menjadi kebutuhan utama masyarakat seperti makanan dan minuman serta obat-obatan," ujarnya. Ia berharap tekanan terhadap rupiah tidak berlangsung lama sehingga dunia usaha masih memiliki ruang untuk menyerap kenaikan biaya tanpa harus melakukan kenaikan harga secara signifikan. Menurutnya, pemerintah dan Bank Indonesia perlu memperkuat strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan tersebut dapat dilakukan melalui intervensi pasar maupun instrumen kebijakan lainnya, mengingat tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi ketidakpastian geopolitik global. Selain stabilitas nilai tukar, ia juga mendorong penguatan sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk menopang ketahanan ekonomi. Kadin turut mengusulkan pemberian insentif bagi industri padat karya yang berorientasi ekspor dan terdampak tingginya biaya bahan baku impor. Insentif tersebut dapat diberikan melalui relaksasi pajak maupun kepabeanan.
“Perlu adanya insentif pajak dalam bentuk relaksasi pajak atau kepabeanan bagi industri padat karya berorientasi ekspor yang terdampak mahalnya bahan baku impor,” tandasnya. Untuk diketahui, Nilai tukar rupiah di pasar tak mampu keluar dari tekanan hingga akhir perdagangan hari ini. Rabu (12/8/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.894 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah menguat 0,49% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.981 per dolar AS. Alhasil rupiah menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News