Rupiah Nyaris Sentuh Rp 18.000 per Dolar AS Kamis (2/7), Pasar Waspadai Data NFP



​KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (2/7/2026), sekaligus memperpanjang tren penurunan selama tiga hari berturut-turut.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.995 per dolar AS, melemah 0,25% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.952 per dolar AS.

Baca Juga: Yield Naik Akibat Tren Bunga Tinggi BI, Ini Prospek Obligasi di Semester II-2026


Senada, kurs tengah Bank Indonesia atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga melemah. Rupiah tercatat berada di level Rp 17.994 per dolar AS, turun 0,18% dibandingkan hari sebelumnya.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang cenderung terbatas seiring indeks dolar AS yang masih stabil menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat.

Mengutip Reuters, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama termasuk yen Jepang dan euro, turun tipis 0,1% ke level 101,32.

Baca Juga: Rupiah Ditutup di Level Rp 17.995 per Dolar Kamis (2/7), Pelemahan 3 Hari Beruntun

Pelaku pasar kini menantikan rilis data non-farm payrolls (NFP) AS yang dijadwalkan terbit pada Kamis waktu setempat.

Data tersebut dinilai akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan ekonomi AS menciptakan sekitar 110.000 lapangan kerja pada Juni, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di 4,3%.

"Jika data payrolls melampaui ekspektasi pasar, dolar berpotensi melanjutkan penguatannya," kata analis senior Mitsubishi UFJ Bank, Akihiko Yokoo, dalam risetnya.

Baca Juga: Termasuk Saham Raffi Ahmad, Investor Bisa Pesan 6 Saham IPO, Cek Rekomendasi Analis!

Meski indeks dolar bergerak relatif datar, rupiah masih berada di bawah tekanan akibat tingginya permintaan terhadap dolar AS dan sikap hati-hati investor menjelang rilis data ekonomi utama Negeri Paman Sam.

Dengan penutupan di level Rp 17.995 per dolar AS, rupiah kembali mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS yang dalam beberapa pekan terakhir menjadi perhatian pelaku pasar.

Di sisi lain, mata uang Asia bergerak terbatas. Yen Jepang sempat menguat tajam ke kisaran 161,71 per dolar AS, memicu spekulasi adanya intervensi otoritas Jepang untuk menopang mata uangnya.

Baca Juga: IPO Saham RANS-EMMI-BACH Bisa Dipesan Mulai Hari Ini (2/7), Simak Cara Beli Saham IPO

Sementara itu, ringgit Malaysia menguat 0,3% terhadap dolar AS dan peso Filipina bergerak relatif datar.

Pergerakan rupiah selanjutnya diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh hasil data NFP AS, arah pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury), serta ekspektasi pasar terhadap prospek kebijakan suku bunga The Fed pada paruh kedua 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News