Rupiah Nyaris Tembus ke Rp 18.000 per Dolar AS, Tertekan Defisit Neraca Dagang



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), bahkan ditutup hampir menyentuh Rp 18.000 pada perdagangan Kamis (2/7/2026) Kondisi ini sekaligus memperpanjang tren penurunan selama tiga hari berturut-turut.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.995 per dolar AS, melemah 0,25% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.952 per dolar AS.

Senada, kurs rupiah di Bank Indonesia atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga melemah. Rupiah tercatat berada di level Rp 17.994 per dolar AS, turun 0,18% dibandingkan hari sebelumnya.


Baca Juga: IHSG Menguat 0,87% ke 5.744, Top Gainers LQ45: BRPT, WIFI, EMTK, Kamis (2/7)

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah kali ini lebih banyak dipengaruhi sentimen dari dalam negeri. Salah satunya adalah peringatan dari Fitch Ratings yang menilai arus keluar modal yang berkelanjutan serta penurunan cadangan devisa dalam jangka panjang dapat memberikan tekanan terhadap profil peringkat kredit Indonesia.

Selain itu, defisit neraca perdagangan Indonesia juga menjadi perhatian pasar. Pasar merespons negatif defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 yang mencapai US$ 1,61 miliar, menjadi defisit pertama sejak April 2020.

Defisit tersebut terjadi karena nilai impor mencapai US$ 24,81 miliar, lebih tinggi dibandingkan ekspor yang sebesar US$ 23,20 miliar. Ini sekaligus mengakhiri tren surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Defisit terutama berasal dari sektor migas yang mencatatkan defisit US$ 3,76 miliar, didorong tingginya impor minyak mentah dan hasil minyak. Secara tahunan, impor migas melonjak 70,78%, sedangkan impor nonmigas meningkat 14,69%.

"Defisit neraca perdagangan pertama sejak April 2020 pada Mei, di tengah penurunan ekspor yang tidak terduga turut memberikan tekanan terhadap rupiah," ujar Lukman kepada Kontan, Kamis (2/7/2026).

Untuk perdagangan Jumat (3/7), Lukman menilai pelaku pasar akan mencermati rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya data Non-Farm Payrolls (NFP).

Menurutnya, jika data NFP dirilis lebih kuat dari ekspektasi pasar, maka dolar AS berpeluang kembali menguat sehingga rupiah berpotensi menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS.

Baca Juga: Strategi Harga Murah dan Merek Milik Sendiri Jadi Penopang Kinerja MDIY

"Potensi data ini lebih kuat dari perkiraan bisa terjadi, mengingat event piala dunia yang sedang berlangsung di AS dengan demikian dolar berpotensi kembali menguat malam ini dan rupiah diperkirakan bisa menembus Rp 18.000," ujarnya

Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.050 per dolar AS pada perdagangan Jumat (3/7/2026).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News