Rupiah Rentan Tembus Rp 18.000, Intervensi BI Diminta Fokus Jaga Likuiditas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bayang-bayang pelemahan nilai tukar rupiah untuk menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) semakin membesar akibat kerentanan struktural domestik dan masifnya tekanan eksternal.

Melansir Bloomberg pada Jumat, (9/10/2026), nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.899 per dolar Amerika Serikat (AS) dengan catatan pelemahan 0,09%. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia di hari yang sama mematok rupiah di posisi Rp 17.884 per dolar AS, mencatatkan penguatan sebesar 0,03% dibandingkan hari sebelumnya.

Menguapnya tenaga rupiah yang sebelumnya sempat menguat di kisaran Rp 17.500-an membuktikan bahwa apresiasi tersebut belum ditopang fundamental yang kokoh.


Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham Rumahsakit HEAL, MIKA, dan SILO, Mana yang Layakn Dicermati

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman menilai, koreksi nilai tukar saat ini merupakan imbas nyata dari terbatasnya kedalaman pasar valas domestik dan rentannya perekonomian terhadap pembalikan modal portofolio.

Tekanan ini menjadi kian masif saat imbal hasil (yield) US Treasury meroket hingga menyentuh 5,26%, yang secara otomatis kembali meningkatkan daya tarik aset dolar.

"Artinya, persoalan rupiah bukan semata gejolak eksternal, tetapi juga belum kuatnya fondasi ketahanan sektor eksternal," terang Rizal kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).

Dari sisi lain, tingginya pamor obligasi AS tersebut berbenturan langsung dengan besarnya kebutuhan dolar di dalam negeri.

Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz memaparkan bahwa permintaan valas tetap tinggi untuk membiayai laju impor, kewajiban pembayaran utang luar negeri, hingga investasi.

Irman memproyeksikan defisit transaksi berjalan Indonesia akan menyentuh sekitar 1,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2026.

Kombinasi tekanan ganda ini membuat probabilitas rupiah untuk terperosok menembus batas Rp 18.000 menjadi sangat besar, mengingat jarak fluktuasinya hanya berselisih sekitar 0,7% dari posisi pasar saat ini.

Di tengah kondisi tersebut, cadangan devisa yang per September tercatat cukup memadai di angka US$ 146,3 miliar harus dikelola dengan bijak.

Baca Juga: Simak Prospek Saham MIKA di Tengah Peningkatan Kasus Influenza

Intervensi yang terlalu agresif hanya untuk menahan angka psikologis dinilai justru berisiko menguras amunisi bank sentral tanpa menyelesaikan akar masalah.

Irman memandang bahwa otoritas moneter sejatinya tidak perlu memaksakan diri untuk memaku nilai tukar pada satu titik harga absolut di tengah volatilitas global.

"BI tidak perlu mempertahankan rupiah pada angka tertentu, termasuk Rp18.000. Yang lebih penting adalah mencegah pelemahan yang terlalu cepat dan menjaga kepercayaan pasar," terang Irman kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).

Upaya peredaman gejolak melalui pasar spot dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) memang krusial. Namun, efektivitasnya harus senantiasa diimbangi dengan langkah penguatan pasokan valas riil, perbaikan fundamental eksternal, serta koordinasi kebijakan yang kredibel agar depresiasi tidak merambat secara persisten.

Ke depan, pergerakan mata uang Garuda diproyeksikan masih akan diselimuti tren depresiasi secara terbatas.

Hingga akhir 2026, Rizal memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 18.200 per dolar AS. Senada dengan hal itu, Irman mematok proyeksi dasar nilai tukar di posisi Rp 17.963 per dolar AS, dengan rentang indikatif pergerakan yang berkisar antara Rp 17.750 hingga Rp 18.150 per dolar AS.

Baca Juga: Kasus Influenza Membayangi Prospek Saham Kesehatan, Cek Rekomendasi HEAL, SILO, MIKA

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News