KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonom menyebut target rupiah Rp17.500 per dolar AS dan yield SBN 10 tahun 6,9% yang dipatok pemerintah dalam RAPBN 2027 masih mungkin tercapai. Namun, perlu dicermati kedua target tersebut memiliki tingkat tantangan yang berbeda. Untuk diketahui, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan RAPBN 2027 dalam pidato penyampaian RUU APBN 2027 dan Nota Keuangan di DPR RI, Jumat (14/8). Pemerintah menargetkan ekonomi tumbuh 6%, dengan belanja negara Rp 4.097,2 triliun dan pendapatan negara Rp 3.426 triliun. Pemerintah juga menargetkan sejumlah asumsi makro untuk tahun 2027, seperti nilai tukar rupiah yang dibidik berada pada kisaran Rp 17.500 per dolar AS, sementara yield SUN 10 tahun di level 6,9%.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.798 Per Dolar AS Hari Ini (17/8), Asia Perkasa Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, berpandangan asumsi target rupiah tersebut cukup realistis meskipun sedikit optimistis, sedangkan asumsi imbal hasil SBN 10 tahun 6,9% lebih menantang. Tercatat pada perdagangan Jumat 14 Agustus, setelah RAPBN disampaikan, rupiah berada di sekitar Rp 17.825 per dolar AS dan imbal hasil SBN 10 tahun turun ke sekitar 7,18%. “Jadi, untuk rupiah, saya menilai asumsi pemerintah masih cukup kredibel, dengan syarat tekanan harga minyak mereda, arus modal kembali membaik, BI mempertahankan kredibilitas stabilisasi nilai tukar, dan defisit transaksi berjalan tidak melebar berlebihan.
Untuk SBN, situasinya berbeda,” ujar Josua kepada Kontan, Sabtu, (15/8/2026). Menurut Josua, target imbal hasil 6,9% memang hanya sekitar 28 basis poin di bawah posisi pasar 14 Agustus, tetapi RAPBN menggunakan asumsi rata-rata tahunan, bukan sekadar titik pada satu hari. Josua menjelaskan, tantangan utamanya berasal dari pasar global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun baru-baru ini berada sekitar 4,68%, tertinggi pada lelang sejak 2007, dengan tekanan berasal dari inflasi, besarnya defisit fiskal AS dan pasokan obligasi yang tinggi. Karena itu, ia menekankan, yield SUN tenor 10 tahun 6,9% pada tahun 2027 bukan angka yang mustahil, tetapi merupakan asumsi yang relatif optimistis. “Angka tersebut lebih mudah tercapai pada semester II 2027 apabila suku bunga global mulai stabil, harga minyak turun dan risiko fiskal Indonesia mereda, jauh lebih sulit apabila tekanan global masih tinggi pada semester I,” jelasnya.
Baca Juga: Saham Hermina (HEAL) Keluar dari MSCI, Ini Prospeknya Lebih lanjut, Josua menyebut ada lima faktor utama yang akan menentukan minat asing terhadap aset rupiah pada 2027. Pertama, kredibilitas realisasi defisit dan penerimaan negara. Kedua, arah suku bunga dan obligasi pemerintah AS. Ketiga, konsistensi BI menjaga inflasi, rupiah, dan cadangan devisa. Keempat, perkembangan harga minyak serta defisit transaksi berjalan. Dan kelima, persepsi terhadap tata kelola, transparansi serta peringkat utang Indonesia. Oleh sebab itu, Josua bilang pemerintah sebaiknya tidak mengejar biaya pembiayaan murah dengan memperbesar risiko pembiayaan kembali. Justru, strateginya harus mengutamakan jatuh tempo yang panjang, distribusi penerbitan yang merata, diversifikasi mata uang, pembiayaan awal ketika pasar kondusif, dan komunikasi fiskal yang konsisten. Mempertimbangkan kondisi saat ini, Josua memproyeksi rupiah akan bergerak di level Rp 17.800-Rp 18.000 per dolar AS pada akhir 2026, kemudian menguat menjadi sekitar Rp 17.400-Rp 17.600 pada akhir 2027. “Proyeksi titik kami juga menempatkan rata-rata 2027 di Rp 17.599 dan akhir tahun 2026 Rp 17.469, sehingga asumsi RAPBN Rp 17.500 sebenarnya jauh lebih dekat dengan skenario dasar daripada asumsi imbal hasil SBN 6,9%,” jelasnya. Tetapi untuk yield SUN 10 tahun, diperkirakan Josua akan berada jauh di atas target pemerintah. Josua memperkirakan yield SUN 10 tahun di sekitar 7,20-7,40%, dengan titik tengah sekitar 7,30% hingga akhir 2026.
Baca Juga: Saham Hermina (HEAL) Keluar dari MSCI, Ini Prospeknya Untuk 2027, Josua menyebut tekanan berpotensi masih cukup tinggi pada semester pertama karena ia mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga bank sentral AS. Nah, kemudian mereda pada semester kedua seiring normalisasi harga minyak dan suku bunga kebijakan BI yang diperkirakan tetap 5,75%. Dengan demikian, kisaran dasar imbal hasil SUN 10 tahun 2027 adalah sekitar 7,10%-7,30%, meskipun lonjakan sementara di atas 7,30% tetap mungkin terjadi pada semester pertama jika tekanan global memburuk. “Dengan profil tersebut, asumsi 6,9% pemerintah sebaiknya diperlakukan sebagai sasaran optimistis yang membutuhkan penurunan premi risiko, bukan sebagai hasil yang otomatis tercapai,” pungkas Josua. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News