Rupiah Sempat Tembus ke Rp18.000, Berpeluang Uji Rp18.250 per Dolar AS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/9/2026).

Rupiah spot ditutup di level Rp17.981 per dolar AS, melemah tipis 0,02% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.978 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan, rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah Rp18.031 per dolar AS pada pukul 09.31 WIB.


Tekanan juga terlihat pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI). JISDOR melemah Rp33 atau 0,18% menjadi Rp17.998 per dolar AS.

Baca Juga: Komisaris Beli Saham Perusahaan Kontruksi, Sehari Untung Capital Gain 7%

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan mengatakan tekanan terhadap rupiah masih didominasi faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS, kenaikan yield US Treasury, harga minyak yang tinggi, serta ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve.

"Tekanan terbesar datang dari kombinasi dolar AS yang kuat, kenaikan yield US Treasury, harga minyak yang kembali tinggi, serta ekspektasi bahwa The Fed masih dapat melanjutkan kenaikan suku bunga," ujar Brahmantya kepada Kontan.co.id

Menurut dia, perkembangan konflik AS-Iran dan kondisi Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati.

Penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan konflik membuat prospek normalisasi distribusi energi kembali tertunda.

Kondisi tersebut menjaga risiko gangguan pasokan minyak tetap tinggi. Harga Brent sempat melonjak lebih dari US$4 per barel sebelum memangkas penguatan setelah muncul harapan mediasi Qatar.

Brahmantya mengatakan, kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi rupiah karena Indonesia merupakan net importir minyak.

Baca Juga: IHSG Rawan Lanjut Melemah Rabu (30/9), Simak Rekomendasi Saham VKTR hingga AMRT

Jika gangguan Selat Hormuz berlangsung lebih lama dan harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, kebutuhan dolar AS untuk impor energi berpotensi meningkat.

"Semakin lama Hormuz terganggu dan minyak bertahan di atas US$100, kebutuhan dolar untuk impor energi berpotensi meningkat dan risiko imported inflation juga semakin besar," jelasnya.

Harga energi yang tinggi juga dapat meningkatkan tekanan inflasi global dan membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kondisi tersebut berpotensi menjaga yield US Treasury dan dolar AS tetap tinggi sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Di dalam negeri, BI masih melakukan stabilisasi melalui pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan non-deliverable forward (NDF). Namun, ruang penguatan rupiah dinilai lebih terbatas ketika tekanan berasal secara bersamaan dari dolar AS, yield Treasury dan harga minyak.

Baca Juga: Emiten Milik Haji Isam Cetak Volume Hauling 3,1 Juta Ton, Laba Tembus Rp 27,2 Miliar

Rupiah Berisiko ke Rp18.250

Brahmantya menilai, level Rp18.000 per dolar AS merupakan level psikologis penting bagi rupiah. Namun, penembusan level tersebut belum otomatis berarti pelemahan akan berlanjut tanpa batas.

"Namun tembus Rp18.000 belum otomatis berarti rupiah akan terus melemah tanpa batas. Hal terpenting adalah apakah USD/IDR mampu bertahan dan membentuk penutupan konsisten di atas Rp18.000," katanya.

Jika USD/IDR mampu bertahan di atas Rp18.000, level tersebut berpotensi berubah menjadi support baru. Dalam skenario tersebut, rupiah berpeluang kembali tertekan menuju Rp18.100 hingga Rp18.250 per dolar AS.

Baca Juga: Harga Saham LQ45 Ini Rontok 2 Hari Usai Berlaku Harga Dasar Rp 1, Kapan Balik Arah?

Sebaliknya, apabila mediasi AS-Iran menghasilkan kemajuan, harga minyak turun dan intervensi BI mampu membawa USD/IDR kembali di bawah Rp18.000, rupiah berpeluang rebound menuju Rp17.950–Rp17.800 per dolar AS.

Untuk perdagangan Rabu (30/9), Brahmantya memperkirakan rupiah masih memiliki bias melemah dengan volatilitas tinggi. Namun, intervensi BI berpotensi membatasi tekanan.

Rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.800–Rp18.200 per dolar AS, dengan bias ke sisi atas selama masih bertahan di atas Rp18.000. Support berada di Rp17.950–Rp17.800, sedangkan resistance di Rp18.100–Rp18.250.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News