KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan mencatat level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026), di tengah menguatnya mata uang Negeri Paman Sam akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Berdasarkan data
Reuters pada pukul 02.13 GMT, rupiah diperdagangkan di level Rp 17.890 per dolar AS, melemah 0,34% dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 17.830 per dolar AS.
Baca Juga: Harga Minyak Naik 3 Hari Beruntun Akibat Konflik Timur Tengah, Saham AI Tetap Menguat Pelemahan tersebut menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pada perdagangan hari itu. Di pasar regional, pergerakan mata uang Asia cenderung terbatas. Yen Jepang menguat tipis 0,04% ke level 159,82 per dolar AS, sementara dolar Singapura naik 0,02%. Sebaliknya, won Korea Selatan melemah terhadap dolar AS, begitu pula baht Thailand yang turun 0,06%, peso Filipina yang melemah 0,08%, serta ringgit Malaysia yang turun 0,25%. Yuan China juga terkoreksi tipis 0,02% terhadap dolar AS. Secara
year to date (YTD), rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam kedua di kawasan setelah won Korea Selatan.
Baca Juga: Indeks Nikkei Capai 68.000 untuk Pertama Kalinya, Saham AI dan Semikonduktor Melonjak Sejak awal 2026, rupiah telah melemah sekitar 6,82% dari posisi akhir 2025 yang berada di level Rp 16.670 per dolar AS. Sebagai perbandingan, won Korea Selatan tercatat melemah 5,23%, rupee India turun 5,66%, peso Filipina melemah 4,66%, dan baht Thailand terkoreksi 3,70%. Di sisi lain, beberapa mata uang justru menguat terhadap dolar AS sepanjang tahun ini. Yuan China menguat sekitar 3,27%, ringgit Malaysia naik 2,09%, dan dolar Singapura menguat 0,51%. Penguatan dolar AS belakangan ini didorong meningkatnya permintaan aset safe haven setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas.
Selain itu, pasar juga mulai memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve masih terbuka setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan ketahanan ekonomi yang lebih baik dari perkiraan.
Baca Juga: Tanker Minyak dan LNG Mulai Melintas, Harapan Pembukaan Selat Hormuz Menguat Kombinasi faktor eksternal tersebut membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, semakin besar. Pelaku pasar kini menantikan data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis dalam pekan ini untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Fed dan prospek pergerakan dolar AS ke depan.