Rupiah Sentuh Rekor Terendah, Pasar Keuangan Indonesia Semakin Tertekan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali terpuruk dan mencetak rekor terendah baru terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (18/5/2026).

Pelemahan tajam ini dipicu lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik Timur Tengah, kenaikan imbal hasil obligasi AS, hingga meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar domestik Indonesia.

Berdasarkan data pasar, rupiah anjlok 1,19% ke level Rp 17.668 per dolar AS. Ini menjadi pelemahan intraday terbesar sejak awal September sekaligus rekor terendah kedua dalam sepekan terakhir.


Baca Juga: Peringatan MSCI & FTSE: Popularitas Pasar Saham Indonesia Terancam Pudar?

Tekanan terhadap rupiah juga menjadikannya sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang tahun ini. Bahkan, rupiah berpotensi mencatat pelemahan bulanan terburuk sejak 2016.

Gejolak dipicu meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah setelah serangan drone menghantam aset Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi mencegat serangan udara, dan Iran memperketat kontrol di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia. 

Situasi itu langsung mendongkrak harga minyak global dan memicu arus dana keluar dari aset berisiko di negara berkembang.

Kondisi tersebut menjadi pukulan berat bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia. Kenaikan harga energi memperbesar tekanan terhadap defisit transaksi berjalan sekaligus memicu kekhawatiran terhadap inflasi domestik.

Namun tekanan terhadap rupiah dinilai tidak hanya berasal dari faktor global. Pelaku pasar juga menyoroti meningkatnya kekhawatiran terhadap disiplin fiskal pemerintah, independensi Bank Indonesia (BI), derasnya arus modal asing keluar, hingga tata kelola pasar saham setelah sejumlah saham Indonesia dikeluarkan dari indeks MSCI.

Tekanan besar juga terlihat di pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 4% ke level 6.425,95 dan memperpanjang pelemahan selama lima hari berturut-turut. Secara year to date, IHSG sudah terkoreksi lebih dari 25%.

Baca Juga: Rupiah Terendah Sepanjang Sejarah, Mata Uang Asia Terkapar

Analis MUFG Michael Wan mengatakan mata uang Asia saat ini menghadapi tekanan berlapis akibat penguatan dolar AS, lonjakan yield obligasi AS, dan kenaikan harga energi.

"Negara pengimpor minyak seperti Indonesia menghadapi tekanan ganda, sementara rupiah juga terbebani sentimen domestik," ujarnya.

Di sisi lain, indeks dolar AS terus menguat selama enam sesi beruntun dengan kenaikan lebih dari 1,5%. 

Pada saat bersamaan, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam 15 bulan terakhir, memperketat kondisi likuiditas global dan menekan aset negara berkembang.

Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun juga naik 5,6 basis poin menjadi 6,765%, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko pasar domestik.

Situasi ini membuat rapat dewan gubernur BI pekan ini menjadi sorotan utama pasar. Selama tujuh bulan terakhir BI mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%. 

Baca Juga: Rebalancing MSCI Picu Outflow dari Pasar Saham Indonesia Hingga US$ 1,8 Miliar

Namun tekanan terhadap rupiah memunculkan spekulasi bahwa bank sentral berpotensi menaikkan suku bunga demi menjaga stabilitas nilai tukar dan mengembalikan kepercayaan pasar.

Sejauh ini BI terus melakukan intervensi di pasar valas melalui pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), offshore non-deliverable forward (NDF), hingga pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder untuk meredam gejolak rupiah.

Tekanan juga melanda mata uang Asia lainnya. Rupee India menyentuh rekor terendah baru di level 96,185 per dolar AS. Ringgit Malaysia melemah 0,7%, sementara won Korea Selatan dan dolar Taiwan turut terkoreksi.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah dinilai paling dalam di kawasan karena kombinasi faktor eksternal dan sentimen domestik yang belum mereda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News