​KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah mencoba bangkit terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Namun, penguatan rupiah di pasar spot berbanding terbalik dengan kurs referensi Bank Indonesia (BI) yang kembali melemah. Mengutip data
Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.900 per dolar AS, menguat tipis 0,07% dibandingkan posisi Senin (12/10/2026) di Rp 17.913 per dolar AS.
Sebaliknya, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI melemah 0,17% ke level Rp 17.930 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp 17.899 per dolar AS. Dengan demikian, Jisdor rupiah melanjutkan pelemahan selama dua hari berturut-turut.
Baca Juga: Bea Keluar Tekan Daya Tarik Ekspor Emas, Cermati Rekomendasi Saham Pilihan Analis Pergerakan rupiah berlangsung di tengah koreksi dolar AS dari level tertinggi dalam 18 bulan. Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, turun 0,25% menjadi 102,29 pada Selasa. Sehari sebelumnya, indeks tersebut sempat menyentuh 102,61, level tertinggi sejak April 2025. Pelemahan dolar AS sejalan dengan penurunan harga minyak dunia. Investor juga mengalihkan perhatian ke arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta menilai risiko eskalasi konflik geopolitik menjelang pemilihan paruh waktu AS masih terbatas. Pelaku pasar memperkirakan Presiden AS Donald Trump akan berupaya menghindari eskalasi konflik di Timur Tengah maupun perang Rusia-Ukraina yang berpotensi memengaruhi prospek politik Partai Republik menjelang pemilihan tersebut.
Baca Juga: Energi Mega (ENRG) Gelontorkan Rp 38,56 Miliar untuk Aktivitas Eksplorasi Pekan lalu, Trump mengatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu. Pada Minggu (11/10/2026), ia juga menyampaikan adanya gencatan senjata di sektor energi antara Rusia dan Ukraina. Di pasar komoditas, harga minyak turun pada Selasa dan berada di jalur penurunan pertama dalam hampir sepekan. Pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan tambahan pasokan diesel dari Rusia. Selanjutnya, investor menanti rilis data indeks harga konsumen (CPI) AS untuk September yang dijadwalkan pada Rabu (14/10/2026). Data inflasi tersebut akan menjadi salah satu petunjuk untuk menilai arah kebijakan suku bunga The Fed. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada Oktober diperkirakan mencapai 80%, naik dari 51% sebulan sebelumnya. Meski demikian, pasar masih memperhitungkan pengetatan kebijakan sebesar total 75 basis poin hingga akhir 2027.
Baca Juga: Soechi Lines (SOCI) Tambah Dua Kapal Tanker pada Kuartal III-2026 Daragh Maher, ahli strategi valuta asing senior di HSBCÂ mengatakan, kejutan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memicu reaksi pasar. Namun, satu rilis data belum tentu cukup untuk mengubah ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga. "The Fed berulang kali menegaskan bahwa kebijakan ditentukan berdasarkan keseluruhan bukti, bukan hanya satu titik data," ujar Maher dikutip dari
Reuters. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News