Rupiah Tak Hanya Loyo Terhadap Dolar AS Tapi Juga Mata Uang Global, Ini Saran Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. 

Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (5/6) pukul 12.03 WIB, rupiah berada di level Rp 18.038 per dolar AS.

Tak hanya terhadap dolar AS, pada penutupan perdagangan Kamis (4/6), rupiah juga mencatat pelemahan terdalam terhadap sejumlah mata uang utama lainnya. Rupiah berada di level Rp 14.051 per dolar Singapura, Rp 12.872 per dolar Australia, Rp 112,9 per yen Jepang, Rp 20.959 per euro, dan Rp 24.241 per poundsterling.


Baca Juga: IHSG Anjlok 2,5% di Sesi Pertama Hari Ini (5/6), Top Losers LQ45: WIFI, PGAS, JPFA

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS maupun mata uang utama lainnya mencerminkan kombinasi tekanan global dan domestik.

Menurut Rizal, dari sisi global, penguatan dolar AS didorong oleh tingginya ketidakpastian geopolitik yang membuat investor global kembali memburu aset-aset safe haven.

"Dari sisi domestik, perlambatan pertumbuhan ekonomi, meningkatnya kebutuhan valas, serta berkurangnya aliran modal asing turut menekan nilai tukar rupiah dibandingkan mata uang regional lainnya," ujar Rizal kepada Kontan, Jumat (5/6/2026).

Ia memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak dalam tren melemah dengan volatilitas  tinggi hingga akhir Juni 2026. Tekanan tersebut berasal dari penguatan dolar AS, ketidakpastian pasar global, serta sentimen terhadap prospek ekonomi domestik.

Di sisi lain, Rizal menilai intervensi Bank Indonesia serta posisi cadangan devisa yang masih memadai dapat menahan pelemahan rupiah lebih dalam. Dengan demikian, pergerakan rupiah dalam waktu dekat cenderung memasuki fase stabilisasi ketimbang pemulihan yang kuat.

Bagi investor, Rizal menyarankan agar tetap mengedepankan prinsip diversifikasi dan menghindari aksi spekulatif jangka pendek di tengah tingginya volatilitas pasar valas.

Baca Juga: Mulai Kehilangan Kepercayaan, Investor Global Serukan “Sell Indonesia”

"Pada saat nilai tukar sudah berada di level tinggi, risiko koreksi juga meningkat apabila terjadi perubahan sentimen global atau kebijakan moneter yang lebih agresif," kata Rizal.

Oleh karena itu, valuta asing sebaiknya diposisikan sebagai instrumen lindung nilai (hedging), bukan semata-mata untuk mengejar keuntungan dari pergerakan kurs.

Rizal menambahkan, dolar AS masih menjadi pilihan utama untuk kebutuhan diversifikasi maupun lindung nilai karena didukung statusnya sebagai aset safe haven, tingkat likuiditas yang tinggi serta perannya yang dominan dalam perdagangan internasional.

Selain dolar AS, dolar Singapura juga dinilai menarik karena ditopang fundamental ekonomi yang kuat dan memiliki volatilitas yang relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah mata uang utama lainnya.

Menurut Rizal, investor sebaiknya lebih berfokus pada kualitas fundamental mata uang dan tujuan diversifikasi portofolio, bukan sekadar mengikuti tren penguatan jangka pendek.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News