KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memastikan bank sentral akan tetap melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berbagai tekanan domestik maupun global. Untuk diketahui, rupiah spot dibuka menguat pada awal perdagangan Rabu (4/11/2026) pada pukul 09.03 WIB ke level Rp 18.115 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 0,25% dari sehari sebelumnya Rp 18.160 per dolar AS. Meski begitu, sejak awal tahun hingga 4 November 2026, rupiah sudah melemah 7,90% terhadap dolar AS.
Destry mengatakan, stabilitas rupiah merupakan salah satu mandat utama BI sekaligus prasyarat untuk menciptakan iklim ekonomi yang kondusif. Dengan stabilitas yang terjaga, pihaknya berharap pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja dapat terus berjalan.
Baca Juga: Inflasi Produsen Capai 7%, BI: Dampaknya Tak Langsung Bertransmisi ke Konsumen Meski begitu, Destry menyebut pergerakan rupiah tetap dipengaruhi berbagai faktor, baik dari dalam negeri maupun global, termasuk sentimen pasar yang mempengaruhi rupiah bergerak di luar kisaran fundamentalnya. Dalam situasi tersebut, BI akan melakukan intervensi untuk menyeimbangkan pergerakan rupiah agar tidak menyimpang terlalu jauh dari nilai fundamentalnya. "Adanya intervensi itu berusaha untuk menyeimbangkan pada saat terjadi di luar fundamentalnya, pada saat terjadi sentimen yang tiba-tiba merusak pola ataupun nilai yang sesungguhnya dari rupiah," ujar Destry dalam konferensi pers rapat berkala KSSK, Selasa (3/11/2026). Destry menegaskan, intervensi akan tetap menjadi salah satu instrumen BI dalam menjaga stabilitas rupiah. Intervensi tersebut dilakukan melalui transaksi di pasar spot maupun
non-deliverable forward (NDF).
Baca Juga: Kemenkeu Tegaskan Tak Akan Jadi Pemegang Saham BEI, Ini Alasannya "Kalau ditanya apakah BI akan terus menggunakan intervensi, ya kita pasti juga akan tetap ada untuk menjaga stabilitas di pasar. Baik itu melalui spot maupun NDF. Dan sejauh ini kami masih melihat hasilnya cukup efektif," kata Destry. Selain langkah intervensi tersebut, Destry menyebut, BI juga mengombinasikan sejumlah instrumen kebijakan lainnya, mulai dari suku bunga, penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga pemberian insentif untuk menekan biaya lindung nilai (hedging).
Menurut Destry, penggunaan instrumen tersebut akan disesuaikan dengan dinamika pasar dan sumber tekanan terhadap rupiah. Ia mengibaratkan bauran kebijakan BI sebagai sebuah seni, yakni menentukan waktu yang tepat untuk mengoptimalkan satu instrumen atau mengombinasikannya dengan instrumen lainnya. "Jadi saya selalu menyampaikan bahwa kebijakan BI dalam rangka menjaga stabilitas rupiah itu semacam art (seni). Kapan kita fokus pada satu tools yang saat ini atupun instrumen yang satu," ujar Destry. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News