Rupiah Tembus ke Posisi Terburuk Sepanjang Sejarah, Ini Kata BI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah yang terus melemah dan cetak posisi paling lemah sepanjang masa pada Selasa (12/5/2026). Bank Indonesia mengungkapkan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah meningkat dalam beberapa hari terakhir dipicu kombinasi faktor global dan domestik.

Rupiah di pasar spot ditutup anjlok di level Rp 17.529 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,66% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.414 per dolar AS, dan menjadi penutupan terburuk rupiah sepanjang masa.

Bahkan pada perdagangan intraday, rupiah sempat menyentuh level Rp 17.535 per dolar AS pada 14.28 WIB.


Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, dari sisi eksternal, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperbesar ketidakpastian pasar keuangan global. Kondisi tersebut turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Baca Juga: Purbaya Buka Suara soal Rupiah Rp 17.500, Ini Langkah Darurat yang Disiapkan Menkeu

“Tekanan rupiah dalam hari ini meningkat karena kondisi di Timur Tengah yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” ujar Destry dalam keterangan resminya, Selasa (12/5/2026).

Sementara dari dalam negeri, peningkatan kebutuhan dolar Amerika Serikat (AS) secara musiman juga turut mendorong tekanan terhadap rupiah. Permintaan valas meningkat antara lain untuk pembayaran utang luar negeri (ULN), pembagian dividen perusahaan, serta kebutuhan masyarakat terkait ibadah haji.

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia memastikan akan terus berada di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"BI akan terus berkomitmen utk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF maupun NDF, dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada Rupiah," ujar Destry.

Meski rupiah masih berada di bawah tekanan, BI melihat kepercayaan investor asing terhadap aset keuangan domestik tetap membaik.

Hal tersebut tercermin dari aliran modal asing masuk atau capital inflow ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sepanjang April 2026 yang mencapai Rp 61,6 triliun.

Baca Juga: Menakar Kontribusi BUMN Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026

Selain itu, likuiditas valuta asing di pasar domestik juga dinilai masih cukup memadai. Destry menyebut simpanan valas perbankan atau dana pihak ketiga (DPK) valas hingga akhir Maret 2026 tumbuh 10,9% secara year to date (ytd).

Dengan kondisi tersebut, BI memperkirakan tekanan terhadap rupiah yang bersifat musiman akan mulai mereda.

"BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar Rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News