KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Bank Indonesia (BI) buka suara terkait kondisi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir. Pada Selasa (13/1/2026), rupiah di pasar spot melemah 0,13% secara harian ke Rp 16.877 per dolar AS. Sementara rupiah di Jisdor BI ada di level Rp 16.875 per dolar AS pada Selasa (13/1/2026), melemah 0,13% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.853 per dolar AS. Pada Rabu (14/1/2026), rupiah spot dibuka di level Rp 16.870 per dolar AS, menguat tipis 0,04% dibanding penutupan hari sebelumnya. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G.Hutapea mengatakan, Bank Indonesia konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Defisit APBN 2026 Diprediksi Tetap di Bawah 3%, Begini Dampaknya Terhadap Rupiah Ia menyebut, pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini, termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia. "Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun," ujar Erwin dalam keterangannya, Rabu (14/1/2026). Kondisi ini mendorong rupiah melemah. Meskipun demikian, ia menilai pelemahan rupiah tersebut masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global, antara lain won Korea yang melemah sebesar 2,46% dan peso Filipina sebesar 1,04%. Erwin menambahkan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia yang terus dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder.
Baca Juga: Aturan Terbaru di APBN 2026, Kemenkeu Bisa Rekomposisi Rupiah-Valas Selain itu, berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp 11,11 triliun pada Januari 2026 juga mendukung terkendalinya stabilitas Rupiah, sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yg tetap positif, tercermin dari premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 bps. Ketahanan eksternal juga tetap baik tecermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar US$ 156,5 miliar, setara dengan 6,4 bulan impor, memadai sebagai
buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global. Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat.
"Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter
pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap mencapai sasaran inflasi serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News