Rupiah Tembus Rp 17.000 per Dolar AS, Ancam Inflasi dan Stabilitas Fiskal



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi menimbulkan dampak lanjutan terhadap inflasi hingga tekanan fiskal, terutama jika kondisi ini bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Senin (6/4), kurs USD/IDR berada di level Rp 17.035 per dolar AS atau melemah 0,32%. Sepanjang Maret, rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah di Rp 17.041 per dolar AS pada Selasa (31/3), mencerminkan tekanan berkelanjutan terhadap mata uang domestik.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menilai bahwa jika depresiasi rupiah menembus dan bertahan di atas level Rp 17.050 per dolar AS hingga pertengahan tahun, maka risiko utama yang muncul adalah peningkatan inflasi yang bersumber dari barang impor.


Baca Juga: Rupiah Tergelincir ke Rp 17.000 Lagi, Diprediksi Lanjutkan Tekanan Selasa (7/4)

"Kenaikan harga bahan baku industri dan energi akan menggerus daya beli masyarakat yang pada gilirannya dapat memaksa Bank Indonesia untuk mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat, sehingga berisiko menghambat target pertumbuhan ekonomi," kata Sutopo kepada Kontan, Senin (6/4/2026).

Selain memicu inflasi, pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri, baik oleh pemerintah maupun korporasi. Kenaikan nilai kewajiban dalam denominasi rupiah ini dinilai dapat mempersempit ruang fiskal, khususnya dalam pembiayaan program-program strategis nasional.

Analis Komoditas dan Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, turut menegaskan bahwa pelemahan rupiah akan berdampak langsung terhadap biaya pembayaran utang dalam valuta asing.

Baca Juga: Progres Proyek Harbour Road II Capai 32,31%, WIKA Targetkan Rampung Desember 2026

Di sisi lain, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga berpotensi meningkat seiring kenaikan harga minyak dunia yang terjadi bersamaan dengan depresiasi rupiah. Kondisi ini dapat memperbesar beban subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah.

"Kenaikan harga minyak dunia yang dibarengi pelemahan rupiah akan melambungkan anggaran subsidi BBM, yang berisiko memperlebar defisit APBN dan mengganggu stabilitas fiskal pemerintah," ujar Wahyu.

Dengan berbagai tekanan tersebut, stabilitas nilai tukar rupiah menjadi faktor krusial dalam menjaga inflasi, kesinambungan fiskal, serta momentum pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News