Rupiah Tembus Rp 17.035, Pasar Cermati Defisit APBN yang Melebar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali menembus ke atas level Rp 17.000 pada perdagangan awal pekan, Senin (6/4/2026).

Mengutip data Bloomberg, rupiah pasar spot ditutup di Rp 17.035 per dolar AS, melemah 0,32% dari posisi akhir pekan lalu Rp 16.980.

Sementara itu, pada Jakarta Interbank Spot Dollar Index (Jisdor), Bank Indonesia mencatat rupiah di Rp 17.037 per dolar AS, turun 0,13% dari posisi Rp 17.015.


Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah saat ini dipicu oleh kombinasi sentimen domestik dan global yang sama-sama menekan pergerakan mata uang Garuda.

Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti memburuknya kondisi fiskal yang tercermin dari pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Baca Juga: Rupiah Tertekan, BI Disarankan Perkuat Intervensi di Pasar Valas

Hingga Maret 2026, defisit APBN tercatat mencapai Rp 240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap produk domestik bruto (PDB), meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 99,8 triliun atau 0,41% terhadap PDB.

Menurutnya, pelebaran defisit ini dipicu lonjakan belanja negara yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penerimaan.

Tercatat, total belanja negara mencapai Rp 815 triliun atau tumbuh 31,4% secara tahunan (year on year/yoy), sementara penerimaan negara baru mencapai Rp 574,9 triliun.

“Sementara itu, penerimaan negara hanya terealisasi Rp 574,9 triliun, dengan mayoritas disumbang oleh pajak yakni Rp 462,7 triliun atau tumbuh 14,3% dari Maret tahun lalu yakni Rp 404,7 triliun,” ujar Ibrahim, Senin (6/4/2026).

Ia menjelaskan, keseimbangan primer yang defisit mencerminkan bahwa pendapatan negara belum mampu menutup belanja di luar pembayaran bunga utang, sehingga berpotensi meningkatkan kebutuhan pembiayaan melalui utang baru. Kondisi ini dinilai menjadi sentimen negatif bagi rupiah.

Selain faktor domestik, sentimen global juga turut membebani pergerakan rupiah. Untuk perdagangan Selasa (7/4/2026), pelaku pasar akan mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Sideways Selasa (7/4), Simak Proyeksi Analis

Ibrahim mengungkapkan, investor tengah fokus pada tenggat waktu yang diberikan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

“Ancaman tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut di kawasan Teluk, di mana pengiriman barang tetap sangat terbatas selama beberapa minggu,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika ketegangan meningkat dan mengganggu distribusi energi global, maka hal ini berpotensi mendorong kenaikan harga minyak serta memperburuk sentimen pasar terhadap aset berisiko, termasuk rupiah.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada Selasa (7/4/2026) masih akan berada dalam tekanan, yakni di Rp 17.030–Rp 17.080 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News