KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Ketidakpastian global akibat memanasnya kembali konflik di Timur Tengah dinilai menjadi pemicu utama tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah di pasar spot anjlok dan telah menembus level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini (12/5/2026). Bahkan pada perdagangan intraday, rupiah tembus ke level Rp 17.535 per dolar AS dan jadi posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, sentimen eksternal saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan hubungan Iran dan Amerika Serikat yang belum mencapai kesepakatan permanen.
Baca Juga: Bank Permata Ingatkan Risiko Pelebaran Gap Asumsi Makro 2026, Perlu APBN Perubahan? Menurutnya, meskipun sebelumnya sempat muncul gencatan senjata, belum adanya titik temu antara kedua pihak membuat pasar global kembali diliputi ketidakpastian. Kondisi tersebut langsung berdampak pada negara-negara Asia, terutama negara berkembang yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap minyak mentah. Ia menjelaskan, dampak gejolak global terhadap Indonesia berlangsung lebih cepat karena tingginya paparan ekonomi domestik terhadap pergerakan harga energi dan nilai tukar dolar AS. Akibatnya, pelemahan rupiah pun menjadi sulit dihindari. Josua menilai masyarakat perlu memahami bahwa pelemahan rupiah yang kini telah menembus level Rp 17.000 per dolar AS tidak dapat disamakan dengan kondisi saat krisis moneter 1998. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan periode krisis tersebut. Ia mencontohkan, posisi utang luar negeri pemerintah, ketahanan sektor keuangan, hingga cadangan devisa saat ini berada dalam kondisi yang jauh lebih baik dibandingkan masa krisis moneter.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 17.500 per Dolar AS, Puan Minta Pemerintah Siapkan Langkah Mitigasi "Kita tidak menyamakan dengan kondisi saat ini dengan pada saat krisis moneter tahun 98," kata Josua dalam Media Briefing, Selasa (12/5).
Karena itu, Josua meminta pelaku usaha dan masyarakat tidak bereaksi berlebihan terhadap pergerakan rupiah saat ini. Ia menilai masyarakat yang tidak memiliki paparan langsung terhadap risiko nilai tukar tidak perlu terlalu khawatir. Dalam jangka pendek, Permata Bank masih melihat rupiah berpotensi bertahan di kisaran level Rp 17.000 per dolar AS. Namun arah pergerakan selanjutnya sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah. Menurut Josua, apabila tensi geopolitik mulai mereda dan harga minyak turun kembali ke bawah US$100 per barel, maka tekanan terhadap rupiah dapat berkurang dan membuka peluang penguatan nilai tukar. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News