KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah yang terus melemah semakin menekan sektor manufaktur, termasuk industri minuman. Mengutip Bloomberg, pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pukul 13.56 WIB, rupiah berada di level Rp 18.044 per dolar Amerika Serikat (AS) atau telah melemah 0,43% secara harian. Peneliti Senior Center of Reform on Economics (CORE) Muhammad Ishak Razak memaparkan, pelemahan kurs rupiah dapat dirasakan oleh industri minuman mengingat bahan baku industri ini masih memiliki ketergantungan impor yang tinggi.
Baca Juga: Jaga Pasar Ekspor, IMA Minta Birokrasi Tata Kelola Batubara Satu Pintu Dipercepat CORE mencatat, nilai industri minuman ringan masih ditopang impor hingga 34,31% alias sebesar Rp 2,87 triliun dari total nilai Rp 8,38 triliun. Di sisi lain, Ishak turut menyorot porsi impor pada industri air minum dalam kemasan (AMDK) hanya sebesar 0,54%. "Tapi kalau kita lihat, AMDK ini banyak bergantung pada bahan baku plastik. Impor bentuk lainnya dari plastik masih sebesar 94,9%, sedangkan polimer impornya 21,3% dan poliester impor 53,9%. Artinya AMDK juga akan tetap terganggu dengan penguatan dolar AS," kata Ishak dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (4/6/2026). Maka, ia menilai mayoritas bahan baku dan kemasan yang mayoritas masih diimpor dapat mengerek biaya produksi dan menekan margin. Lebih lanjut, beban biaya ini dinilai berisiko terdampak ke harga jual. Di tengah daya beli yang masih lemah, ia menyebut hal ini mengancam volume penjualan dan daya saing industri minuman. Dari sisi penawaran, kenaikan harga energi global dan suku bunga kredit turut menjadi pemberat di tengah stimulus pemerintah yang dinilai berkurang. Oleh karena itu, Ishak menegaskan tekanan ini menjadi tantangan untuk pemerintah ialah memastikan biaya bahan baku tak menekan dunia usaha sekaligus mendorong konsumsi tetap terjaga. Dia menyoroti, dukungan kebijakan pemerintah yang kondusif menjadi krusial.
"Jadi (pemerintah diharapkan) tidak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang bisa menekan daya beli masyarakat," imbuh Ishak.
Baca Juga: Harga Nikel Tembus US$ 20.000, DEN Sebut Efek Pemotongan RKAB Ishak juga menegaskan, subsektor makanan dan minuman (mamin) merupakan salah satu motor utama sektor manufaktur. Industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan porsi 19,07%, di mana subsektor mamin menyumbang sekitar 7,31% terhadap PDB nasional. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News