KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp 18.000 per dollar AS berpotensi menjadi sentimen positif bagi sejumlah emiten batubara yang memiliki porsi pendapatan ekspor besar. Pasalnya, transaksi penjualan batubara di pasar internasional umumnya menggunakan dollar AS, sementara sebagian komponen biaya operasional perusahaan masih dibayarkan dalam rupiah. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan nilai pendapatan emiten ketika dikonversikan ke mata uang domestik. Kondisi ini dapat terjadi meskipun volume penjualan dan harga jual batubara dalam dollar AS tidak mengalami perubahan.
“Emiten yang memiliki pendapatan ekspor dominan, tetapi struktur biaya operasional dan kewajiban finansialnya lebih banyak menggunakan rupiah, cenderung memiliki sensitivitas positif yang lebih besar terhadap pelemahan rupiah,” ujar Nafan kepada Kontan, Minggu (1/11/2026).
Baca Juga: Harga Referensi Minyak Sawit Turun 6,07% pada November 2026 Menurut Nafan, peningkatan nilai konversi pendapatan tersebut berpotensi menopang margin keuntungan dan laba bersih perusahaan. Namun, besarnya manfaat yang diterima masing-masing emiten tetap bergantung pada keseimbangan antara penerimaan dollar AS dan kewajiban dalam mata uang yang sama atau natural hedging. Sejumlah emiten yang memiliki karakteristik bisnis tersebut antara lain PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (
AADI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (
ITMG), PT Bayan Resources Tbk (
BYAN), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (
ADRO), dan PT Golden Energy Mines Tbk (
GEMS). AADI dan ITMG memiliki kontribusi penjualan ekspor masing-masing sekitar 81% dan 78% terhadap total pendapatan pada 2025. Tingginya porsi ekspor membuat kedua emiten relatif memiliki sensitivitas lebih besar terhadap pergerakan nilai tukar dollar AS. Sementara itu, PT Bukit Asam Tbk (
PTBA) memiliki komposisi penjualan yang lebih berimbang. Hingga September 2026, kontribusi penjualan domestik PTBA tercatat sekitar 52%, sedangkan ekspor sebesar 48%. Nafan menilai BYAN dan GEMS juga patut dicermati karena bisnis pertambangan dan perdagangan batubaranya memiliki eksposur terhadap pasar internasional. Adapun ADRO memiliki karakteristik berbeda lantaran portofolio bisnisnya lebih terdiversifikasi. Karena itu, dampak pelemahan rupiah terhadap kinerja konsolidasi ADRO perlu memperhitungkan kontribusi dari bisnis nonbatubara.
Baca Juga: Bisnis Rental Mobil Kebanjiran Booking untuk Akhir Pekan Meski demikian, investor tidak cukup hanya melihat besarnya kontribusi pendapatan ekspor. Ada sejumlah indikator fundamental yang perlu diperhatikan, mulai dari proporsi biaya operasional dalam rupiah, kebutuhan bahan bakar dan suku cadang impor, kewajiban utang dalam dollar AS, hingga kebijakan lindung nilai atau hedging perusahaan. “Emiten yang memiliki penerimaan dolar AS lebih besar dibandingkan pengeluaran dan kewajiban dolar AS akan memperoleh manfaat kurs yang lebih optimal,” jelas Nafan. Sebaliknya, perusahaan dengan utang dollar AS yang besar maupun ketergantungan tinggi terhadap peralatan impor berpotensi mengalami pengurangan manfaat dari pelemahan rupiah. Sebab, penguatan nilai dollar AS juga akan meningkatkan beban pembayaran kewajiban dan biaya impor dalam rupiah. Sebagai gambaran, setiap pelemahan rupiah sebesar Rp 100 per dollar AS secara teoritis meningkatkan nilai konversi pendapatan sebesar Rp 100 miliar untuk setiap US$ 1 miliar penerimaan dollar AS. Perhitungan tersebut menggunakan asumsi volume penjualan dan harga jual tetap.
Baca Juga: Cisadane Sawit Raya (CSRA) Kantongi Laba Rp 306 Miliar pada Kuartal III-2026 Namun, kenaikan nilai konversi pendapatan tidak serta-merta menjadi tambahan laba bersih dengan nilai yang sama. Perhitungan dampak bersih terhadap profitabilitas perlu mempertimbangkan eksposur biaya dan kewajiban dalam dollar AS, posisi lindung nilai, serta mata uang fungsional perusahaan. Dengan demikian, pelemahan rupiah berpotensi menjadi katalis positif bagi emiten batubara berorientasi ekspor, terutama dalam menopang nilai pendapatan dan arus kas dalam rupiah. Kendati begitu, pergerakan harga batubara global, volume produksi, realisasi penjualan, dan efisiensi biaya operasional tetap menjadi faktor penting yang menentukan kinerja keuangan emiten. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News