Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Ini Biang Kerok Pelemahan Mata Uang Garuda



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali anjlok bahkan hingga menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari Rabu (8/7/2026). 

Mengutip Bloomberg, Rabu (8/7/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 18.014 per dolar AS. Ini membuat rupiah melemah 0,19% dibandingkan dengan penutupan pada hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.980 per dolar AS. Pada perdagangan intraday, rupiah sempat bertengger di level Rp 18.018 per dolar AS.

Sejalan dengan itu, kurs rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) juga sama-sama mengalami pelemahan sebesar 0,94% secara harian menjadi Rp 18.005, dari penutupan hari sebelumnya Rp 17.988 per dolar AS.


Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.000, Ditutup Melemah ke Rp 18.014 Per Dolar AS Hari Ini (8/7)

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, pelemahan rupiah kali ini lebih banyak dipicu oleh sentimen dari dalam negeri.

Menurutnya, hasil survei yang menunjukkan penurunan cukup tajam pada tingkat kepercayaan konsumen Indonesia pada Juni menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan rupiah.

Bank Indonesia (BI) mencatat, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2026 masih berada pada level optimis sebesar 117,8, tetapi lebih rendah dari IKK bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 120,9.

Selain itu, kabar mengenai S&P Dow Jones Indices atau S&P DJI yang memasukkan Indonesia ke dalam 2027 Watchlist, turut menekan sentimen investor terhadap aset domestik. Kondisi ini membuka potensi penurunan klasifikasi pasar ekuitas Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.

Dari eksternal, sentimen lain juga hadir. "Terlebih harga minyak kembali naik oleh eskalasi di Timur Tengah turut memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah," ujar Lukman kepada Kontan, Rabu (8/7/2026).

Ke depan, Lukman bilang, pelaku pasar akan mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan dirilis pada malam hari ini. Menurutnya, dolar AS berpotensi kembali menguat apabila Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh kembali mengindikasikan sikap hawkish seperti FOMC pada bulan sebelumnya.

Baca Juga: Rupiah Melemah Tembus Rp 18.000 Per Dolar AS, Ini Sentimen yang Membayangi

Dari dalam negeri, investor juga akan menunggu rilis data penjualan ritel Indonesia yang dijadwalkan besok hari. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator untuk melihat kekuatan konsumsi domestik dan arah pergerakan rupiah selanjutnya.

Untuk perdagangan Kamis (9/7/2026), Lukman memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News