KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) akibat kombinasi sentimen global dan tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri. Mengutip data Bloomberg pada Selasa (4/8/2026), mata uang Garuda melemah 0,17% atau 30 poin ke level Rp 18.027 per dolar AS. Tekanan yang melanda nilai tukar ini diperkirakan masih akan membayangi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Baca Juga: Charoen Pokphand (CPIN) Raup Kenaikan Laba dan Penjualan pada Semester I-2026 Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai rupiah dalam jangka pendek, yaitu 1–3 bulan ke depan, masih akan menghadapi volatilitas tinggi dan terus menguji level psikologis di rentang Rp 17.900 hingga di atas Rp 18.000 per dolar AS. Menurut Rahma, hambatan utama penguatan nilai tukar dipicu oleh tingginya pemenuhan kebutuhan valas korporasi untuk pembayaran utang luar negeri, dividen, serta impor energi. Di samping itu, fenomena
the strong dollar dan kebijakan suku bunga AS yang bertahan tinggi (
higher for longer) membuat imbal hasil instrumen berbasis dolar AS tetap sangat atraktif. Kondisi tersebut memicu aliran modal keluar (
capital outflow) dari negara berkembang seiring pergerakan indeks dolar AS (DXY) dan ketidakpastian arah kebijakan The Fed. Tekanan juga diperberat oleh lonjakan harga minyak dunia yang membengkakkan biaya impor migas serta kekhawatiran pelaku pasar terhadap indikator fiskal domestik. Perilaku pasar pun mempertegas posisi ini, di mana penguatan rupiah ke Rp 17.900 kerap dimanfaatkan sebagai momentum temporer untuk kembali memborong dolar AS. Guna meredam pelemahan yang terlalu tajam (
overshooting), Bank Indonesia diyakini akan terus mengintensifkan instrumen intervensi di pasar spot, DNDF, hingga optimalisasi SRBI, SVBI, dan SUVBI.
Baca Juga: Pendapatan Ciputra Development (CTRA) Tergerus, Laba Ikut Turun 11% di Semester I Memasuki jangka menengah, yaitu 3–12 bulan ke depan, Rahma melihat peluang stabilisasi bertahap bagi rupiah mulai terbuka seiring meredanya ketidakpastian global. Katalis positif utamanya bergantung pada kepastian pemangkasan suku bunga global secara lebih agresif untuk mempersempit interest rate differential dan menarik kembali arus modal masuk. Daya tahan rupiah juga akan ditopang oleh surplus neraca perdagangan, pengawasan risiko impor energi, konsistensi pengelolaan APBN, efektivitas Devisa Hasil Ekspor (DHE), serta kejelasan arah kebijakan ekonomi nasional. "Kembalinya nilai tukar rupiah ke level psikologis Rp18.000 per dolar AS setelah sempat bergerak di kisaran Rp17.900 ini memperlihatkan tingkat volatilitas yang tinggi di pasar keuangan," ujar Rahma kepada Kontan, Selasa (4/8/2026). Selain itu, persepsi pasar terhadap reformasi kebijakan bursa dan sektor keuangan turut menjadi perhatian investor asing sebelum kembali masuk ke pasar domestik. Mengenai arah pergerakan nilai tukar hingga penghujung tahun, proyeksi rupiah umumnya mengacu pada asumsi dasar makroekonomi dalam APBN atau APBN-P yang ditetapkan Pemerintah bersama DPR sebagai benteng acuan fiskal. Dengan memperhitungkan dinamika kebijakan suku bunga The Fed, geopolitik global, serta transisi moneter dan aliran modal domestik, rupiah diperkirakan masih bergerak dinamis. Konsensus berbagai lembaga riset serta model makroekonomi memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif di kisaran level Rp 17.600 hingga Rp 18.100 per dolar AS menjelang akhir tahun. "Tingginya permintaan valuta asing dari korporasi domestik, baik untuk pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo, repatriasi dividen, maupun kebutuhan impor bahan baku, membuat tekanan beli terhadap dolar meningkat tajam di pasar," pungkas Rahma.
Untuk itu, sinergi kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar global. Investor pun disarankan tetap cermat mengantisipasi pergerakan nilai tukar dengan memperhatikan perkembangan sentimen eksternal maupun kebijakan pemulihan ekonomi dalam negeri.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Uji Level 6.400 Rabu (5/8), Ini Sentimen yang Wajib Dicermati Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News