KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan Senin (8/6/2026). Mengutip
Bloomberg, hingga pukul 12.00 WIB, rupiah di pasar spot melemah 0,83% ke level Rp 18.187 per dolar AS. Sebelumnya, pada Jumat (5/6/2026), rupiah masih menguat tipis 0,07% secara harian ke posisi Rp 18.036 per dolar AS.
Baca Juga: IHSG Anjlok 2,87% ke 5.434 di Sesi I Senin (8/6), Top Losers: Saham TLKM, HRTA, ISAT Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Menurut Ibrahim, konflik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah serangan yang melibatkan AS dan Iran, termasuk eskalasi di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur penting perdagangan energi dunia. Di saat yang sama, konflik antara Israel dengan Palestina dan Lebanon Selatan juga terus berlanjut. Situasi tersebut meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong investor memburu aset safe haven seperti dolar AS. "Perkembangan geopolitik tersebut membuat dolar AS menguat dan harga minyak mentah dunia ikut naik," ujar Ibrahim kepada Kontan, Senin (8/6/2026).
Baca Juga: EMAS Tetapkan Sumber Daya Perdana Kolokoa, Inventaris Emas Pani Jadi 7,4 Juta Ons Selain faktor geopolitik, sentimen negatif terhadap rupiah juga datang dari data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan. Data nonfarm payrolls (NFP) AS pada Mei tercatat bertambah 172.000 tenaga kerja, jauh di atas proyeksi pasar yang memperkirakan kenaikan sekitar 88.000 tenaga kerja. Data tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Bahkan, pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini. "Dengan kondisi pasar tenaga kerja yang masih kuat, kemungkinan kebijakan suku bunga rendah dalam waktu dekat menjadi semakin kecil," kata Ibrahim. Ia menambahkan, tingginya inflasi global juga membuat banyak bank sentral cenderung mempertahankan sikap moneter yang ketat, termasuk The Fed.
Baca Juga: Portofolio Saratoga (SRTG): Ini Sektor Unggulan yang Dibidik Saat Pasar Lesu Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi. Kondisi ini dapat memberikan tekanan tambahan terhadap neraca transaksi berjalan Indonesia dan memperbesar risiko pelebaran defisit fiskal. Menurut Ibrahim, sejumlah indikator domestik juga perlu dicermati, termasuk tren inflasi yang mulai meningkat serta surplus neraca perdagangan yang menunjukkan tanda-tanda penyempitan.
"Kemarin data inflasi Indonesia kembali meningkat. Pada Juni ini inflasi juga berpotensi naik. Neraca perdagangan masih surplus, tetapi surplusnya semakin menyempit," jelasnya. Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan volatil dengan kecenderungan melemah. "Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup di kisaran Rp 18.030 hingga Rp 18.100 per dolar AS," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News