KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed menahan suku bunga acuan pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Oktober 2026 nyatanya belum sepenuhnya meredakan tekanan terhadap rupiah. Pasalnya, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember justru semakin menguat di tengah tingginya harga minyak dan berlanjutnya arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia. Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group, Sana Ur Rehman, mengatakan bahwa arah kebijakan The Fed pada Desember, respons Bank Indonesia (BI), serta perkembangan harga minyak dan arus modal asing akan menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan rupiah hingga akhir tahun.
Baca Juga: GOTO Berhasil Cetak Laba Tiga Kuartal Beruntun, Bisnis Fintech Jadi Penopang Tekanan terhadap rupiah sendiri masih cukup besar. Pada 28 Oktober 2026, rupiah ditutup di level Rp 18.184 per dolar AS, yang menjadi penutupan terlemah sepanjang sejarah. Sama halnya juga terjadi pada kurs referensi BI atau JISDOR yang ditutup ke Rp 18.183 per dolar AS pada tanggal yang sama. Menurut Sana, sebagian besar tekanan terhadap rupiah berawal dari minyak, karena harga minyak yang lebih tinggi membuat Indonesia mengeluarkan lebih banyak dolar AS untuk impor bahan bakar dan mendorong kenaikan harga di AS. “Kenaikan harga di AS memberi The Fed alasan untuk menaikkan suku bunga pada Desember, yang dapat menarik dana asing keluar dari pasar seperti Indonesia,” ujar Sana dalam keterangannya, Jumat (30/10/2026). Ia menambahkan, kondisi tersebut menempatkan BI pada posisi yang tidak mudah. BI perlu menjaga stabilitas rupiah, tetapi kenaikan suku bunga acuan juga berisiko meningkatkan biaya pinjaman di dalam negeri. Dalam rapat Dewan Gubernur pada 20-21 Oktober 2026, BI menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00%, sementara BI-Rate tetap dipertahankan di level 5,75%.
Baca Juga: Bakrie & Brothers (BNBR) Raup Pendapatan Rp 4,12 Triliun per Kuartal III-2026 Kenaikan bunga Deposit Facility memberikan insentif lebih besar bagi perbankan untuk menempatkan dana dalam rupiah di BI. Langkah ini menjadi salah satu upaya menjaga daya tarik aset rupiah di tengah tekanan eksternal. Sana menilai, keputusan The Fed pada Desember berpotensi menambah tekanan bagi BI. Terlebih, jadwal rapat BI pada 15–16 Desember berlangsung sekitar sepekan setelah FOMC pada 8–9 Desember. Jika The Fed memberikan sinyal kenaikan suku bunga yang lebih tegas, BI berpotensi menghadapi tekanan lebih besar untuk menyesuaikan kebijakan moneternya. Selain itu, perkembangan harga minyak juga menjadi faktor yang perlu dicermati. Data inflasi AS menunjukkan harga konsumen meningkat 3,7% secara tahunan hingga September 2026. Pada periode yang sama, harga energi melonjak 20,4%, sedangkan inflasi di luar pangan dan energi tercatat 2,6%. Kenaikan harga energi tersebut menjadi perhatian karena dapat membuat inflasi AS bertahan tinggi dan memengaruhi keputusan suku bunga The Fed. Di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kontrak berjangka minyak Brent ditutup di sekitar US$ 114 per barel pada 27 Oktober 2026. Di sisi lain, aksi jual investor asing di pasar saham Indonesia turut menambah tekanan terhadap rupiah. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing membukukan jual bersih saham senilai Rp 94,87 triliun sepanjang Januari hingga 23 Oktober 2026. Ditambah, pada 15 Oktober 2026 kemarin, MSCI mengusulkan pemindahan Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market.
Baca Juga: BEI Luncurkan Indeks IDX Commodity 20, Ini Saham Pilihan Analis “Keputusan penyedia indeks MSCI yang masih tertunda, yang indeksnya menjadi acuan banyak dana global, dapat memperpanjang aksi jual tersebut,” tambahnya.
Ke depan, pelaku pasar perlu mencermati sejumlah agenda ekonomi hingga Desember 2026. Data inflasi PCE AS periode September yang dijadwalkan rilis pada 29 Oktober menjadi salah satu indikator penting karena merupakan ukuran inflasi yang diperhatikan The Fed. Selanjutnya, data inflasi AS periode Oktober pada 10 November akan menjadi salah satu acuan terakhir sebelum FOMC Desember. Dari dalam negeri, BI dijadwalkan menggelar rapat Dewan Gubernur pada 17-18 November dan 15-16 Desember. “
Keputusan Oktober memberi petunjuk yang lebih sedikit dibandingkan enam pekan ke depan. Jika harga minyak tetap tinggi dan inflasi AS tidak mereda, alasan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada Desember akan semakin kuat, dan tekanan terhadap rupiah serta Bank Indonesia kemungkinan meningkat. Jika keduanya mereda, rupiah punya ruang untuk stabil menjelang akhir tahun,” pungkas Sana. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News