KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026). Mengutip Bloomberg, Rabu (8/7/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 18.014 per dolar AS. Ini membuat rupiah melemah 0,19% dibandingkan dengan penutupan pada hari sebelumnya berada di level Rp 17.980 per dolar AS. Pada perdagangan intraday, rupiah sempat bertengger di level Rp 18.018 per dolar AS. Sejalan dengan itu, kurs rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) juga sama-sama mengalami pelemahan sebesar 0,94% secara harian menjadi Rp 18.005, dari penutupan hari sebelumnya Rp 17.988 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan salah satu faktor yang membebani rupiah berasal dari kondisi fiskal pemerintah. Hingga semester I-2026, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatat defisit sebesar Rp 196,5 triliun atau setara 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Ini Biang Kerok Pelemahan Mata Uang Garuda Adapun realisasi pendapatan negara Rp 1.459,4 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp 1.656 triliun. Realisasi defisit tersebut meningkat dibandingkan posisi Mei 2026 yang tercatat sebesar Rp 180,4 triliun atau 0,70% terhadap PDB. Namun, sejumlah ekonom menilai posisi ini sudah menjadi sinyal peringatan dini atas meningkatnya tekanan terhadap APBN, terutama jika dilihat dari dinamika yang berkembang di awal tahun. "Dalam struktur APBN saat ini, pelemahan nilai tukar justru lebih cepat mendorong kenaikan belanja dibandingkan penerimaan negara. Kondisi ini pada akhirnya mempersempit ruang fiskal pemerintah," ujar Ibrahim, Rabu (8/7/2026). Di sisi lain, Bank Indonesia mencatat cadangan devisa Indonesia naik menjadi US$ 145,6 miliar pada akhir Juni 2026, dari US$ 144,9 miliar pada akhir Mei. Namun, Ibrahim menilai posisi tersebut masih berada di dekat level terendah dalam dua tahun terakhir sehingga belum mampu memberikan sentimen positif yang kuat bagi rupiah.
Baca Juga: Rupiah Melemah Tembus Rp 18.000 Per Dolar AS, Ini Sentimen yang Membayangi Dari eksternal, meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah turut memperburuk sentimen pasar. Ibrahim menyoroti dimulainya kembali serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global, terutama setelah muncul laporan adanya serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga memperkuat posisi dolar AS. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun tercatat naik 5,5 basis poin menjadi 4,525%, sehingga meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar. Meski pasar masih meragukan peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed pada pertemuan Juli, probabilitas kenaikan suku bunga pada September mendekati 60%, berdasarkan CME FedWatch Tool. Untuk perdagangan Kamis (9/7/2026), Ibrahim mengatakan perhatian pasar akan tertuju pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan dirilis pada Kamis dini hari pukul 01.00 WIB.
"Pelaku pasar akan mencermati notulen rapat FOMC untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed, sementara komunikasi di bawah Ketua baru Kevin Warsh juga akan menjadi perhatian investor," ujarnya. Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Kamis (9/7/2026) akan bergerak di kisaran Rp 18.010 hingga Rp 18.060 per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.000, Ditutup Melemah ke Rp 18.014 Per Dolar AS Hari Ini (8/7) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News